Kamis, 23 Oktober 2014

Berdamai Dengan Diri Sendiri


Mungkin orang pikir saya ini nggak punya masalah. 
Hidup saya baik-baik terus. But, it's not lho it wasn't me

Kalau lagi kumat galaunya, saya kadang-kadang terngiang-ngiang hal apa saja yang pernah saya lakukan selama hidup. Tak jarang saya jadi merasa sedih dan menyesali kejadian nggak penting yang pernah saya lakukan. Kalau sudah keluar rasa menyesalnya begini, wah.. Jaminan saya bisa betah sesenggukan dimana saja kapan saja, hehehe.. big grin

Salahkah menyesal itu?
Menyesal sama sekali nggak baik lho, meskipun cuma menyesal salah membeli sepatu. Perasaan menyesal seringkali diikuti rasa sedih bahkan nggak jarang membuat stres. Betul kan? Tapi agak lebay sih kalo salah beli sepatu saja sampe stress, hehehe tongue

Biasanya saat keluar rasa penyesalan, muncullah kata-kata "seandainya dulu begini", atau "coba dulu begitu".  Padahal kata seandainya merupakan perbuatan setan, dimana di situ ada rasa sedih dan penyesalan bahkan terdapat unsur celaan dan protes terhadap takdir Allah. Yang begini menunjukkan tidak adanya kesabaran dan ridha terhadap ketetapan dan takdir Allah Ta'ala. Astaghfirullahal 'Adzim... I don't want to see

Mari ditengok sebentar. Menurut AlSofwa :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah, jika engkau tertimpa sesuatu, maka janganlah engkau berkata: “Seandainya aku melakukan itu, maka tentu akan seperti ini”,
akan tetapi katakanlah: “Allah telah mentakdirkan, dan apa yang Ia kehendaki, ia akan lakukan, dan sesungguhnya kalimat (لو: seandainya) membukan perbuatan setan”

Sungguh saya takut dicap kualat, makanya saya berusaha sedemikian rupa untuk menghindari merasa menyesal. Caranya bagaimana? Menyibukkan diri sendiri dan bersenang-senang dong. Bisa dengan ikut pengajian, jalan-jalan tiap weekend (hari lain kerja cyin), sepedaan bareng sepupu atau melakukan sesuatu yang kebanyakan orang cap sebagai perbuatan anak-anak. Jangan heran ya kalo saya jadi kelihatannya tidak punya masalah. Ini namanya cuma "wang sinawang" kok teman-teman.

However, saya tahu teori di atas akan sulit terjadi kalo saya sendiri belum berdamai dengan diri sendiri. Maksudnya?

Saya itu susaaaaah banget berdamai dengan diri sendiri. Saya pikir selama ini saya sudah bisa memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain di masa lalu. Tapi saya lupa untuk memaafkan kesalahan diri saya sendiri. Mungkin itu juga sebabnya, saya jadi sering teringat-ingat akan kesalahan orang lain dan membuat saya kembali mengeluarkan perasaan marah sekaligus menyesal.

Menutupi perasaan di depan orang lain sih gampang, tapi membohongi diri sendiri kan susah. Maka dari itu saya perlu dan wajib menanamkan doktrin di otak bahwa nggak ada gunanya bersedih atas sikap dan sifat saya di masa lalu. Bahwa kejadian yang sudah terjadi memang sudah digariskan oleh Allah. Nggak penting nangis-nangis berharap keadaan bisa di ubah. Toh nasi sudah menjadi bubur ayam. Terima nasib saja lah, meski jangan sampe putus asa.

Kalian tau kenapa di motor atau mobil ada spionnya? Supaya kita nggak perlu menengok banyak-banyak kebelakang, cukup liat sebatas spion saja tongue.  Masa lalu biarlah masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah meminta ampunan pada Allah SWT diikuti mengampuni, mengkoreksi, dan memperbaiki diri sendiri. 

Bismillahirahmanirrahim.. 
Lupakan.. lupakan.. lupakan...
Lihat ke depan
"Yang sudah ya sudahlah, ya sudah sudah"
(Ayu Ting Ting mode on)

Kamis, 16 Oktober 2014

We've been in Surabaya

Surabaya.. here I come.. party
(Eh, nggak ding, wong sudah berlalu, harusnya pake past tense. Aih… sok grammar police) 

Kota Surabaya kota yang totally strange bagi saya. Asli saya belum pernah kesana. Nggak tahu moda transportasi dari stasiun menuju lokasi tujuan. Dan muka saya langsung kecut saat saya tahu bahwa saya harus mengadu nasib ke Surabaya. Kali pertama ke Surabaya, saya sendirian naik travel sampe lokasi. Jadi semua saya serahkan pada sopir travel. Saya mah tinggal tidur tahu-tahu sampe tujuan. Pulangnya saja yang kudu tanya angkot menuju stasiun Gubeng ke bapak-bapak yang nongkrong di sekitar lokasi. 

Sebelum berangkat saya sudah membekali diri saya dengan banyak hal tentang Surabaya. Dimulai dari booking kereta PP Jogja-Surabaya dari jauh-jauh hari. Penting ini, soalnya kalo mendekati hari H kereta biasanya fullbooked. Tinggal kereta mahal yang tersisa. Selanjutnya saya googling peta Surabaya yang di printscreen, daftar penginapan murah dan navigasi dari penginapan-penginapan menuju lokasi aduan nasib, halah.. Semunya saya simpan di HP. Bahkan saya menghafalkan nama jalan di sekitar lokasi biar nggak sewot saat GPS nggak jalan atau hape tiba-tiba lola. 

Lanjutkan ya.. 

At the train
Kali kedua, berbekal informasi yang tersimpan di HP dan tentunya ijin orang tua, Senin sore kemarin  saya dan Ria (teman SMPku) jalan-jalan ke Surabaya. Kami berangkat dengan kereta pukul 16.50 dan sekitar pukul 23.30 malam kami sampai di stasiun Gubeng. Hotel pertama yang saya cari adalah Hotel Gubeng yang ada di depan Hotel Sahid. Hotelnya murah meriah, apalagi dilihat dari bentuknya yang jadul. Sayang, kamar disini penuh. Pengen sih pindah ke Hotel Sahid di depannya, tapi dompet saya nggak kuat, pake bingitz lagi. Jadi saya mengalihkan tujuan ke Family Guest House di Jl. Gubeng Kertajaya VIIIC. Tentunya saya sudah telpon dulu untuk memastikan ada tidaknya kamar. 

Guest house ini ada di dalam komplek perumahan. Jadi agak susah dicari. Memang harus mengandalkan GPS kalau baru pertama ke penginapan ini. Naik taksi ke Guest House ini tidak lama, hanya sekitar 10 menit saja, dan argonya sekitar 20 - 25 ribu. Tarif kamar disini 300ribu/malam  (lumayan nggak murah, hiks) untuk twin maupun double bed dengan fasilitas AC, wifi, kamar mandi dalam dan breakfast. Hotelnya sih lumayan, kecuali TV yang cuma ada 1 chanel dangdut doang, ya ampon thumbs down

Hari Selasa, setelah urusan saya selesai, pukul 12.45 siang kami checkout. Jadwal checkout memang sampai jam 12 siang saja, tapi ada toleransi sampai jam 1 siang. Selebihnya akan dikenai charge 50%. Selanjutnya, kami menuju ke Delta Mall sambil menunggu jadwal kereta kami jam 7 malam. Yeah, I know pasti pada mencibir, jauh-jauh ke luar kota kok masuknya Mall lagi big grin

Perjalanan dari Guest House ke Delta Mall juga tidak lama, cuma 10-15 menit. Lokasi Mall nggak jauh dari stasiun Gubeng. Kami bisa jalan kaki sambil mampir ke Museum Kapal Selam. Mo apalagi ke Museum kalo nggak mau narsis coba? Bisa ditebak kan kalo saya tidak terlalu tertarik sama yang namanya Museum, maafkeun.. Tapi ya daripada nunggu lama di stasiun, mending jalan-jalan dulu kan. Bayar 8 ribu (museum dijogja cuma antara 1 ribu - 4 ribu saja) sudah bisa keliling kapal selam dan foto-foto disekitarnya. Suasana di dalam kapal tidak panas karena ada banyak AC terpasang. Sayangnya, saya agak nggak suka dengan ruangan tertutup. Belum bisa disebut claustrophobia, hanya kurang nyaman saja berada di ruangan sempit dan tertutup.

Ini dya bukti kenarsisan kami di Museum ... 
At Museum Kapal Selam
Itu yang pojok kiri hotel Sahid tuh :D
Sekitar pukul 5 sore kami berjalan menuju stasiun Gubeng Lama. Namun, karena kami harusnya naik kereta dari Stasiun Gubeng baru, maka kami memutuskan naik becak dari Gubeng Lama dengan ongkos 10 ribu. Bisa sih bilang ke penjaga tiket untuk masuk ke Gubeng Baru, dan akan diantar pak satpam menerobos lewat tengah rel. Tapi, kami harus bersabar menunggu sekitar 1 jam sebelum keberangkatan kereta baru bisa di antar. Ribet ya aturan baru sekarang...

Sebenarnya Gubeng Lama dan Gubeng Baru itu di lokasi yang sama, tapi beda fungsi. Gubeng Lama untuk kelas ekonomi dan komuter, sedang Gubeng Baru untuk kelas Bisnis dan Eksekutif. Sepertinya penumpang kereta Ekonomi Sri Tanjung bisa juga naik dari sini. 
At Gubeng Baru
Oh iya, selama perjalanan pulang kami ditemani Agnes Monica lho, hihihi..
Too bad, I'm not her fans. I guess that was the reason why I slept quit early that night rolling on the floor
Maap, bukannya iklan ye..

Jumat, 03 Oktober 2014

Handphoneku Ngambek

Alhamdulillah..
Pas banget. Pas lagi butuh duit, pas lagi banyak pengeluaran, pas nggak ada dana cadangan, pas banyak hal yang harus saya pikirkan, pas hape minta dipajaki. Pokoke alhamdulillah 
Bukti Pajak
Cerita dimulai dari hari senin kemarin saat saya sedang men-charge hape di kantor di samping standfan. Saya berdiri sambil mengutak-atik hape. Tangan saya memegang kipas angin di samping saya. Tiba-tiba, saya merasa kepala kipas anginnya seperti mau jatuh. Dua tangan saya refleks berusaha memegang kipasnya dan selamatlah si kipas. Sayangnya, hape ditangan kanan justru terlempar sampai batrenya lepas. Hikss.. 

Kalau masalah hape kebanting jatuh beradu dengan lantai sih sudah biasa jadi saya tidak terlalu sedih. Tapi, hape saya jadi tidak bisa menyala normal, restart berkali-kali. Ibarat manusia, hape saya pingsan - siuman - pingsan lagi. Tanpa perlu saya pencet tombol power, hape saya bisa lho nyala sendiri. Sampai-sampai saya harus melepas batrenya saking kasihan sama si hape yang sedang memperjuangkan hidupnya, haih.. 

Pusing  juga ternyata kalau hape mati. Bayangkan, nomor hape teman-teman beberapa masih ada di hape. Hanya beberapa saja yang masuk di simcard. Alhasil, saya memanfaatkan nomor yang tersedia untuk minta tolong ini itu. Salah satunya meminta Citra mengecek graha samsung ada dimana dan tutup jam berapa. Lha di rumah nggak ada hape yang bisa buat internetan je. Bersyukur Citra ngerti sama keadaan hape saya, hihihi.. 

Sebenarnya hari itu juga saya pengen langsung membawanya ke service center. Tapi sayang, jadwal mengajar di sekolah dan les cukup padat (haiyah). Besoknya saya browsing tentang cara menangani hape yang restart sendiri. Beberapa blogger (mostly) menyebut kalo kesalahan ada pada softwarenya, entah aplikasi terlalu  banyak, malfunction ato terkena virus. Solusinya dengan factory reset sendiri yang beresiko hilangnya data di dalam hape. Setelah susah payah memback-up data, saya berkali-kali mencoba reset sendiri tapi gagal. Menyerah, hari Kamis saya akhirnya menuju Graha Samsung di Jogjatronik. 

Antrian di graha tidak banyak. Bahkan selesai saya memencet tombol antrian, saya sudah dipanggil oleh CS nya. Nah, disini saya baru tahu bahwa kesalahan bukan pada software-nya, tapi hardware-nya. Tombol power tertahan yang membuat si hape otomatis pengen restart sendiri. Biaya penggantian tombol power sekitar 95 ribu dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar 1 jam (kurang-kurang dikit lah ya). Resikonya pastilah data di dalam hape hilang, kembali pada keadaan seperti awal pembelian. Musti download aplikasi lagi deh.

Saran saya bagi anda yang hape nya restart sendiri:
  1. Begitu hape menyala, segera amankan data di dalam hape. Masukkan simcard kosong dan pindahkan nomor di phonebook ke simcard. Pindahkan juga folder penting di phone ke memory card.
  2. Bila handphone menyala sendiri saat batre dipasang (padahal belum memencet tombol power), maka kemungkinan tombol power hape nge-jam.
  3. Segera bawa hape anda ke graha terdekat sesuai merk hape anda. Graha Samsung ada di JogjaTronik Lantai Ground, atau di Jl. Diponegoro barat Tugu Jogja. Garansi service hanya 1 bulan saja. Jadi maksimalkan penggunaan hape dan pastikan tidak ada masalah lagi.
  4. Jika HP restart terus dan gagal booting, kemungkinan software-nya yang malfunction. Cara gampangnya sih di factory reset. Dalam keadaan HP off, pencet tombol power dan volume secara bersamaan. Pilih Wipe all cache. Kalo sudah selesai, pilih Reboot Now. Lanjutkan deh prosesnya sampai HP bisa menyala normal kembali..
  5. Terimakasih sudah repot-repot membaca 

Kamis, 02 Oktober 2014

Smartphone Yang Smart

Subhanallah..
Post kali ini saya awali dengan tasbih, saking takjub nya. Sekian lama punya smartphone, baru sekarang merasakan keunggulannya hape pintar ini. 
Sampe pengen menjerit “Ya ampun, pintar bangeeeeeet..” 
*sambil pegang pipi kanan kiri day dreaming


Selama ini, saya hanya tahu kalo punya smartphone itu keunggulannya banyak. Salah satunya, bisa melacak hape yang hilang atau di curi. Maka saya memasang banyak aplikasi keamanan, mulai dari mengganti security lock, kemanan akun email dan sebagainya. Tapi, namanya pencegahan, ya belum tahu apa fungsinya kalo belum kejadian.

Nah seminggu yang lalu (kira-kira begitu), hape kakak ipar saya terjatuh di sekitar kampung. Setelah di telusuri lagi, ternyata hapenya tidak bisa ditemukan. Padahal hape ini isinya penting dan nggak ada clue siapa penemu hape itu thinking

Long story short, tadi siang kakak saya sms kalo whatsapp suaminya aktif. Foto profilnya seorang gadis berjilbab yang berumur sekitar awal 20  tahun. Tanpa pikir panjang, saya mengunggah foto tersebut ke facebook. Selang 2 jam kemudian, seorang kenalan saya mengirim sms dan memberitahu kalo itu adalah foto temannya. Surprise surprise, gadis itu mantan murid SD di tempat saya mengajar. Wow..
Foto dan Nomor sudah di samarkan
Setelah percakapan panjang di whatsapp, saya tahu bahwa bapak gadis ini hanya membeli hape bodong. Tanpa simcard, memory card bahkan charger. Sayangnya, si gadis tidak menyadari kecanggihan si smartphone ini. Mungkin dya kurang paham cara menggunakan aplikasi di dalamnya. Dya pikir hanya dengan mengganti simcard yang baru, maka whatsapp itu bisa menjadi miliknya. No no.. Bukan begitu cara kerja nya dear.. 
Case Closed
Jadi whatsapp ini pendaftarannya menggunakan nomer hape. Ketika nomer sudah terdaftar, maka whatsapp sudah bisa digunakan. Satu hape hanya bisa didaftarkan oleh satu nomer saja. Mengganti simcard hape tidak akan berpengaruh apa-apa ke whatsapp. Pengguna whatsapp yang punya nomer hape saya (misalnya) otomatis akan tahu kalo saya menggunakan whatsapp dan bisa langsung chatting dengan saya. Ketika simcard XL saya copot dan saya ganti dengan simcard IM3, yang muncul di whatsapp saya tetap nomer XL saya. Nomer yang terdaftar di whatsapp tetap nomer yang pertama kali terdaftar. Kecuali, kalau ada pergantian nomor. Dan itu ribet, harus ada konfirmasi antara nomer lama dan nomer baru.

Lanjut..
Setelah saling meminta maaf dan menolak tawaran dya untuk bertemu muka (pasti bakal terjadi awkward moment kan), saya menjelaskan kepadanya kalo whatsapp itu masih atas nama ipar saya meski foto profilnya adalah foto si gadis. Dan teman-teman ipar saya yang punya nomer hape ipar saya pun akan melihat foto dya. Saya juga menyuruh dya untuk meng-uninstal whatsapp dan bbm di hape itu dengan memberinya sedikit arahan. Walah, sok baik bener ih saya..

Moral value..
Bagi anda-anda yang menemukan dan mengira tidak akan ada yang tahu kalau anda lah penemunya, harap hati-hati ya bro. Hindari juga membeli hape yang tak jelas asal usulnya, jangan sampai nanti anda dituduh jadi penadah barang curian lho. Namanya smartphone, pasti ada kelebihannya dibanding hape biasa. Bahkan dengan settingan yang benar, saat hape di isi nomer selain nomer si empunya, hape akan mengirim data nomer baru yang mengisi hape tersebut. Teman kakak saya sampai melibatkan polisi untuk melacak hapenya yang hilang, lagi-lagi berkat kegaptekan penguna barunya. Nah lho.. Nggak mau dipolisikan tho? pirate

Semoga bermanfaat ya sharing saya kali ini, setidaknya bagi pengguna smartphone. 
"Ayo mari pasang sebanyak-banyaknya aplikasi keamanan untuk hape anda." 
Kalo hape hilang, bukan harga hapenya kan yang anda pikirkan, tapi data di hape, kenangan-kenangan serta perjuangan untuk mendapatkan hape itu  yang bikin kita sedih kehilangan hape.. 

Senin, 29 September 2014

Rok Biru Tua

Yay..
Akhirnya setelah sekian bulan tidak memposting yang berlabel sewing, bisa juga ya nulis post ini. Sebenarnya ada beberapa baju yang sudah saya jahit semenjak post jahitan terakhir. Ada seragam batik atasan dan rok untuk  acara perpisahan sekolah bulan Juni kemarin, ada pula baju kutung tanpa lengan untuk di rumah. Sayangnya saya nggak sempat nge-post di mari. 

Dan... menyentuh mesin jahit lagi itu seru banget. Dari kemarin-kemarin, saya merasa tidak punya waktu menjahit seragam. Padahal, rok biru yang sejatinya (halah) dipakai setiap kali mengajar HW (2 kali seminggu) sudah "mbladus" dan nggak layak pakai. Eh, layak sih, wong masih bagus, jahitannya juga masih oke. Cuma ada sebagian warna saja yang berubah warna menjadi agak orange, walah..  

Alhamdulillah.. 
Bersyukur banget, gara-gara bete dan stress merajalela belakangan ini (cieh, curcol ), saya jadi bisa melampiaskannya ke kain biru dongker ini. Pertama-tama saya menggambar desain dan mengukur badan sendiri. Dengan cara begini, memudahkan saya untuk memotong kain tanpa harus membuat pola terlebih dulu.
Desain Awal
Setelah desan jadi, saya pun mulai menggambar pola langsung di atas kain. Begini cara saya meng-abuse si kain.
Hasil melamun selama beberapa waktu
The first is the hardest. Mungkin quote ini yang paling cocok buat saya. Mengawali menjahit itu butuh mood yang oke. Sedangkan saya sedang dalam keadaan stress (Haish, stress kok bangga, hehe...) Mengkira-kira dan memotong kain tanpa pola itu susah buat saya. Kira-kira saya menghabiskan waktu 2 jam untuk membayangkan, menggambar desain, mengukur badan sendiri, menuangkan gambarnya di atas kain dan memotongnya sampai siap dijahit. 

Setelah beberapa jam bergaul dengan mesin jahit, sekitar jam 10 malam akhirnya saya selesai menjahit. Tidak benar-benar selesai sih, tinggal meng-obras saja. Tapi, karena saya belum (pengen punya ) punya mesinnya, maka saya harus cukup puas membiarkan sisa-sisa kain menjuntai tidak rapi. Gemes banget deh. Tapi mau bagaimana lagi 
Stress yang berbuah manis 
Sebenarnya saya pengen bikin tutorial menjahit rok. Tapi siapalah saya, bukan expert, jadi nggak usah saja ya, hehe.. Rok ini memang rangkaian seragam HW, tapi karena kegiatan HW less formal (lagipula saya tidak suka yang berbau-bau resmi) maka  roknya pun jauh dari kata resmi. Rok ini semi A-line tanpa resleting. Ban pinggang depan agak lebar dan berkancing dan bagian pinggang belakang diberi karet.

Hmmm... Sepertinya saya jadi pengen buru-buru melanjutkan menjahit kain yang lain. Kain yang ini itu masih teronggok di tas jahit. Moga-moga besok ada waktu lebih lagi untuk menjahit lagi ya. Aamiin..

Jumat, 26 September 2014

Teaching Booster

Sore kemarin, saya agak malas-malasan mengajar private. Kadang-kadang, kalau malasnya kumat, saya meng-cancel les dan menggantinya di hari lain. Murid saya sore itu adalah siswa kelas 1 yang minta ditemeni belajar baca tulis. Haduh.. jujur saya tidak terlalu bisa mengajari baca tulis. Tapi apa daya, Fitri maunya belajar sama saya. Saya sudah kenal bocah ini dari tahun lalu, saat saya mengajar kakak sepupunya. Dari dulu dya antusias pengen belajar, eh, ato cuma pengen ketemu saya saja ya  *ge-er

Di antara kemalasan saya, bocah ini memberi saya satu alasan agar saya berpikir 1000x lagi untuk meng-cancel les. Kemarin dya bercerita, dengan bahasa jawa medhoknya:
Fitri : "Mbak, aku mau bengi ora iso turu lho"
Aku : "Lha ngopo?"
Fitri : "Lha kelingan nek sesuk arep les karo mbak Endang"
Aku : *kaget, pengen ge-er, tapi kok lebay 
Maunya pasang muka marah, tapi nggak bisa, hihihi
Saya sering gemes setiap kali mengajar Fitri. Celotehnya kadang membuatku marah sekaligus tertawa. Seperti saat minggu lalu saya menaikkan nada suara untuk memintanya fokus belajar, dya dengan muka lempeng ngomong "Sik sabar yo mbak". 
Tawa saya meledak seketika itu juga. She slap me on my face. Saya diingatkan untuk sabar oleh Fitri, jadi malu   
Saya pun membalasnya sambil ngelus dada, "Iyo fit, mbak Endang ket wingi sabaaaaar" 
Fiuuh..

Saya jadi teringat dengan satu murid saya yang sudah saya ajar semenjak dya kelas 1 sampai sekarang dya kelas 5. Dulu, saya begitu entengnya meng-cancel les. Sampai suatu hari (saat si anak masih kelas 2), ibu dan neneknya bercerita kalau bocah ini menangis saat saya tidak bisa datang mengajar. Speechless.. saya benar-benar hanya bisa senyum saat itu. My bad... punya penyakit kok "malas".

Memang saya akui, kedekatan antara murid, keluarga murid dan guru itu penting. Bisa dibilang saya sendiri merasa sangat dekat dengan dua bocah tadi. Mereka memberiku suntikan semangat untuk lebih rajin lagi mengajar  . Minimal, lebih rajin mengajar mereka . Muridnya saja semangat belajar, masak gurunya nggak semangat sih? 

Sedikit demi sedikit saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya berangkat mengajar karena ada yang membutuhkan ilmu yang saya punya. Setahu saya, ilmu yang saya tularkan nanti akan membawa saya masuk surga. Selama.. murid-murid saya mengamalkan ilmu yang saya ajarkan. Syukur-syukur bisa mem-forward ilmunya ke orang lain lagi.

Bismillah... Nggak mau kalah sama syetan malas. Apapun pekerjaannya, sebelum mulai perlu diniatkan karena ibadah deh..

Selasa, 26 Agustus 2014

Atas Nama PMS Saya Galau


Sejak beberapa hari ini saya jadi gampang emosi, mood nggak menentu, pengen nangis, su’udzon mulu dan semua hal jadi dimasukkan hati (sensitif bingitz pokoke). Puncaknya, saya jadi galau sambil sesekali melotot ngomelin hape yang anteng tanpa notifikasi. Nah lo, hape anteng saja jadi masalah. What’s wrong with me? Pikirku.. thinking
Thanks for the models :)

Pertanyaan saya terjawab saat saya akhirnya sadar “Oalah, saya lagi PMS tho?” 
Padahal saya jarang lho memperhatikan PMS ini. Yang saya tahu, setiap saya sedang menstruasi, bawaannya pengen maraaaaaah terus. Nggak perduli siapa yang salah, saya pasti nyolot duluan. Astaghfirullah... Itulah mengapa, pada masa ini saya sangat rindu untuk mengadu sama Allah. Ya iyalah, hanya sama DIA saya bisa nangis-nangis mengadu. Nggak bisa curhat total sama sesama manusia sih eyke, big grin

Sebelumnya,mari sini saya jelaskan apa itu PMS…. 
PMS adalah singkatan dari Premenstrual Syndrome atau kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. Penyebab adanya PMS ini tidak jelas, bahkan para peneliti pun hanya bisa menyebutkan kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan perubahan hormonal. Gangguan yang sering terjadi pada masa PMS ini dapat berupa gangguan kesehatan (pusing), depresi, perasaan sensitif berlebihan, mudah marah, sering menangis dan up-and-down suasana hati antara kesedihan dan kemarahan yang silih berganti. Gejala fisik yang paling bikin gemes nih, munculnya jerawat. 
Gemeeeeees banget, udah muka hancur bekas jerawat banyak, ditambah muncul jerawat baru. Bikin saya makin down, rendah diri sajo, huks... crying

Biasanya gejala PMS ini terjadi pada 80% wanita di dunia menjelang periode menstruasi, dan berakhir saat periode menstruasi. Tapi, bisa juga berlanjut setelah periode ini. Nah, periode PMS saya ini berlanjut sampai berakhirnya masa menstruasi. Tapi tenang, nggak sampe akut banget sih. Contohnya, sebelum berangkat les tadi suasana hati saya lagi tinggi. Begitu mulai les dan gojegan sama  murid, langsung cair deh kebekuan hati saya, tongue

Kemarin dan sampai sore tadi, suasana hati saya ada di level tinggi, marah. Ada yang chat biasa saja saya sudah pasang kuda-kuda. Sedangkan malam ini, suasana hati saya ada di level bawah, sedih tak terkira (halah). Saya jadi merasa bersalah pada orang-orang yang sejak kemarin chatnya bikin saya su’udzon tingkat tinggi (oh my God). Bukan kalian yang salah kok, meski pada dasarnya orang yang PMS merasa orang lainlah yang salah, hehe… 

To those, the victims of PMS, I need to warn you! 
Kepada kalian yang menjadi korban para wanita PMS: 
  • Sabar… sabar… sabar… Siapkan stok sabar se truk karena 99,5% wanita yang PMS akan selalu menganggap kalian lah yang salah dan cuma 0,05% saja yang mengaku dya bersalah 
  • Kenali perubahan emosi dan moodnya. Kalo wanita ini memang emosian, itu mah bukan karena PMS yah. 
  • Jangan dimasukkan hati kalau wanita PMS ini marah-marah nggak jelas pada kalian Cukup dimengerti saja nggak perlu bingung-bingung kudu gimana.

Jadi... Pada kalian yang tak sengaja menjadi korban PMS saya, mohon dimaafkan dan dimaklumi yak. Thank you batting eyelashesbatting eyelashes
 
Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon