Tampilkan postingan dengan label The School. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The School. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Suka Duka Penulis Ijazah


Alhamdulillah..
Setelah kerja keras selama 2 hari 2 malam, akhirnya saya selesai juga menulis 48 lembar Ijazah. Pundak dan lengan kanan berasa tegang, butuh sentuhan pijat kayaknya, ehehe..

Sebelum menulis, saya sempetkan membaca pos Menulis Ijazah? Santai Saja yang pernah saya tulis 2 tahun lalu. Iya, saya kan nggak pede, jadi butuh mempelajari lagi gitu. Saya juga menyempatkan diri melongok traffic sources post tersebut. Wah.. sudah 13.800-an tayangan ternyata. Alhamdulillah, kalo postingan tersebut berguna bagi orang lain. Apalagi musim lulusan begini, banyak yang senasib sama saya, menjadi penulis Ijazah.

Sebenarnya nggak ada istimewanya jadi penulis Ijazah, bagi saya lho. Kalo boleh justru saya pengen mendelegasikan tugas ini kepada teman yang lain, jadi saya bisa punya waktu untuk kegiatan lain. Sayangnya, teman-teman   nggak berani menerima "tantangan". Ya sudahlah, saya terima lagi deh job ini. Padahal kalo dipikir-pikir tulisan tangan saya enggak begitu bagus, bener deh. Tapi, sebagai bukti kalo saya tanggung jawab,  saya setidaknya berusaha menulis dengan jelas dan rapi. Bagus mah nomer dua saja. Lha kepriwe maning, uwis menthok segitu tulisan saya big grin

Empat tahun jadi penulis Ijazah, saya mulai merasa bosan (maaf ya pak kepsek, hehe). Ada banyak suka dan duka yang saya rasakan. Kali ini saya mo ngomongin yang itu. Tapi biar selese baca postingan ini jadi enggak bete , maka saya mau ngelist duka-nya dulu baru suka-nya.

Duka
  • Jari tengah, telunjuk dan ibu jari jadi sakiiiit. Jari tengah terutama, semacam ada yang penyok ke dalem kena pen-nya.
  • Mata sampe pedes saking seringnya bolak balik lihat data - kertas Ijazah - data - Ijazah, begitu terus nerd.
  • Bosen mesti nulis seharian dengan kewaspadaan penuh demi ngejar deadline.
  • Mesti sering-sering nyalain kipas angin, entah itu siang ato malem. Soalnya saya menderita hyperhidrosis, kebanyakan cairan (if not keringat hot), takut kertasnya jadi basah kalo saya nggak kipasan.
  • Ada rasa takut mistyping (salah tulis) saking semangatnya, takut kena protes kalo data murid salah juga.
Kepleset nulis jadi JULI, kemudian di setrip dikit jadi JUNI
  • Jadi agak sewot kalo ditanya wali murid "kapan Ijazahnya dibagi, bu?". Arrgh..
  • Ngiri sama temen-temen yang bisa liburan, sedang saya terkungkung di antara kertas berharga itu.
  • Jadi nyuekin ponakan yang sedikit-sedikit nowelin minta digodain.
  • Flu melanda.. Gara-gara kerja sampe malem sambil kipasan pula, hiks
Suka
  • Super lega melihat ekspresi seneng anak-anak pas cap 3 jari tadi. Sederhana kan senengnya mereka? applause Ini momen yang paling mereka tunggu deh. 
  • Puas, ternyata tulisan saya yang nggak seberapa bagus sangat berguna untuk kelanjutan pendidikan murid-murid saiyah (hayah.. lebay deh, lebay)
  • Seneng bisa menyelesaikan tantangan yang ditakuti banyak guru. Artinya, saya makin percaya kalo nggak ada yang sulit selama saya punya kemauan untuk menaklukannya.
  • Selama nulis Ijazah, saya nggak bakal diganggu dengan kerjaan sekolah lainnya. Asyiiik..
  • Errr.... Dapet honor (meski nggak banyak) juga bagian "suka"-nya, eaaa..
Nah lho.. ternyata list di atas kurang berimbang ya. Yang bawah dikit bingit gitu, hihihi
Kalian yang sedang berjuang dengan blanko Ijazah, jangan terpengaruh sama tulisan saya di atas yak. Dukanya ketutup sama kepuasan melihat hasil tulisan dan kegunaan tulisan tersebut kok. Itu kalo saya sih..

Dah, dah.. Kembali ke laptop blanko aja gih.. wave
Selamat Menulis Temen-temen  studying

Senin, 27 Oktober 2014

Behind the Camp


Baru-baru ini saya menemukan CD berisi foto-foto sewaktu anak-anak camping bulan Mei 2014. Campingnya sendiri sudah lama, tapi fotonya tersimpan rapi di loker teman guru. Bahkan belum ada yang sempat mengunggahnya di blog SD, waduh.. Nggak heran sih, soalnya kebanyakan yang mengisi blog tersebut juga saya dan saya sedang kurang mood menulis post selain blog saya sendiri cool

Malam minggu kemarin, jadilah foto kegiatan anak-anak tersebut akhirnya saya posting di blog sebelah setelah sekian lama cuma saya simpan di draft. Diantara puluhan foto tersebut, ada beberapa foto panitia yang terselip. Sayangnya, saya kurag berani mengupload foto tersebut ke blog sekolah. Kesannya kok kurang sopan gitu. Bisa-bisa jatuh wibawa kami hanya karena memajang foto kenarsisan kami yang tak terkira. Tapi.. sayang juga ya kalo foto kami ini nggak ada yang melihat big grinMakanya, atas ijin saya (lhoh?) maka foto tersebut saya unggah di blog saya sendiri.
Dibuang Jangan
Nggak cuma anak-anak, ternyata saya juga menunggu-nunggu moment camping ini, hahaha..
Maklum lah, jaman sekolah dulu cuma 1x camping, itu juga kurang sweru. Makanya, saat saya dan teman-teman mempunyai kesempatan menjadi panitia camping, kami benar-benar merencanakannya dengan khidmad (aih). Kami nggak mau asal membuat acara, butuh berkali-kali rapat panitia sekaligus mengecek perlengkapan jauh hari sebelum camping dimulai. Dan karena guru muda di sekolah kami tidak banyak yang bisa di karyakan, maka kami merekrut beberapa teman kami. Oh iya, camping tahun ini kami bekerjasama dengan sekolah tetangga. Tapi, bisa dipastikan kalau kami yang lebih dominan, secara jumlah dan secara suara  don't tell anyonedon't tell anyone

Beberapa Panitia

Ehm..  sepertinya ini dulu deh another post nggak penting saya. Intinya cuma mau pamer foto kegiatan kami saja kok, hihihi.. 
See ya later wave

Jumat, 26 September 2014

Teaching Booster

Sore kemarin, saya agak malas-malasan mengajar private. Kadang-kadang, kalau malasnya kumat, saya meng-cancel les dan menggantinya di hari lain. Murid saya sore itu adalah siswa kelas 1 yang minta ditemeni belajar baca tulis. Haduh.. jujur saya tidak terlalu bisa mengajari baca tulis. Tapi apa daya, Fitri maunya belajar sama saya. Saya sudah kenal bocah ini dari tahun lalu, saat saya mengajar kakak sepupunya. Dari dulu dya antusias pengen belajar, eh, ato cuma pengen ketemu saya saja ya  *ge-er

Di antara kemalasan saya, bocah ini memberi saya satu alasan agar saya berpikir 1000x lagi untuk meng-cancel les. Kemarin dya bercerita, dengan bahasa jawa medhoknya:
Fitri : "Mbak, aku mau bengi ora iso turu lho"
Aku : "Lha ngopo?"
Fitri : "Lha kelingan nek sesuk arep les karo mbak Endang"
Aku : *kaget, pengen ge-er, tapi kok lebay 
Maunya pasang muka marah, tapi nggak bisa, hihihi
Saya sering gemes setiap kali mengajar Fitri. Celotehnya kadang membuatku marah sekaligus tertawa. Seperti saat minggu lalu saya menaikkan nada suara untuk memintanya fokus belajar, dya dengan muka lempeng ngomong "Sik sabar yo mbak". 
Tawa saya meledak seketika itu juga. She slap me on my face. Saya diingatkan untuk sabar oleh Fitri, jadi malu   
Saya pun membalasnya sambil ngelus dada, "Iyo fit, mbak Endang ket wingi sabaaaaar" 
Fiuuh..

Saya jadi teringat dengan satu murid saya yang sudah saya ajar semenjak dya kelas 1 sampai sekarang dya kelas 5. Dulu, saya begitu entengnya meng-cancel les. Sampai suatu hari (saat si anak masih kelas 2), ibu dan neneknya bercerita kalau bocah ini menangis saat saya tidak bisa datang mengajar. Speechless.. saya benar-benar hanya bisa senyum saat itu. My bad... punya penyakit kok "malas".

Memang saya akui, kedekatan antara murid, keluarga murid dan guru itu penting. Bisa dibilang saya sendiri merasa sangat dekat dengan dua bocah tadi. Mereka memberiku suntikan semangat untuk lebih rajin lagi mengajar  . Minimal, lebih rajin mengajar mereka . Muridnya saja semangat belajar, masak gurunya nggak semangat sih? 

Sedikit demi sedikit saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya berangkat mengajar karena ada yang membutuhkan ilmu yang saya punya. Setahu saya, ilmu yang saya tularkan nanti akan membawa saya masuk surga. Selama.. murid-murid saya mengamalkan ilmu yang saya ajarkan. Syukur-syukur bisa mem-forward ilmunya ke orang lain lagi.

Bismillah... Nggak mau kalah sama syetan malas. Apapun pekerjaannya, sebelum mulai perlu diniatkan karena ibadah deh..

Senin, 31 Maret 2014

Tack It.. Just Take It

Sebagai guru bahasa Inggris, penting banget untuk mengenalkan anak kosa kata bahasa Inggris kepada anak-anak. Biasanya saya suka membawa media kartu bergambar saat mengajar. Tinggal saya tempel, saya sebutkan kosakata nya, dan tanpa perlu saya translate, anak-anak mengerti kata apa yang sedang saya sebutkan. Repotnya, saya tidak bisa memegang banyak gambar dan menunjukkan kesemuanya pada anak-anak. Gimana ya caranya?

Aha..
Solusi pertama adalah dengan menempel gambar-gambar ini ke whiteboard dengan isolasi. Tapi, kok ribet ya kalau harus menempel dan memotong isolasinya. Belum lagi kalau gambarnya mau digeser, harus mengganti dengan isolasi baru lagi karena isolasi hanya menempel kuat pada saat pertama kali dipakai saja. Minus lainnya, saat gambar dicabut dari whiteboard, isolasi meninggalkan bekas yang agak susah dihilangkan. Nah, repotkan? Wasting time banget..

Sebagai solusi mujarabnya, perkenalkan.. jeng jeng..
Taken from officeoneuae (left) - qsupplies (right)
Ini namanya Tack It.
Ada yang sudah tau?
Atau malah belum pernah dengar?

Apa sih Tack It itu?
Jadi Tack It adalah multipurpose removable and reusable adhesive (Fabercastell), atau perekat serba guna yang dapat diambil dan digunakan kembali. Fabercastell dan UHU sama-sama punya koleksi adhesive tac ini. Satu merk terdapat beberapa varian warna, tergantung penggunaannya. Yang biasa digunakan untuk kertas adalah Tack It hijau atau UHU Tac putih. Perekat ini tentu saja berbeda dengan isolasi biasa. Selain bisa diambil dan dipakai berulang-ulang, perekat ini tidak meninggalkan sisa di whiteboard. Kalo di blackboard, bisa jadi cat-hitamnya justru ikut tercabut. Memang kudu hati-hati kalau mau memakainya di papan yang tidak solid.

Saya mengenal Tack It ini semasa saya PLPG oleh Bu Nuri (dosen EFC jaman kuliah dulu). Beliau memang concern banget soal pengajaran EFC, makanya beliau semangat sekali saat menjelaskan betapa pentingnya benda ini. Waktu itu, saya terkagum-kagum karena benda hijau mirip permen karet ini bisa memecahkan solusi tempel menempel di kelas. Sejak saat itulah saya selalu sedia Tack It di tempat pensil atau di laci meja kantor. Satu pack Tack It ini bisa saya gunakan lebih dari 2 tahun. Hemat sekali bukan?

Gimana sih cara pakainya?
Preparation
Ambil perekat secukupnya. Tarik - ulur - gulung - tarik - gulung (dan seterusnya) perekat ini sampai agak liat. Bisa juga dibulatkan seperti saat kita membuat adonan roti. Kalau baru di tarik ulur beberapa kali, kadang Tack It kurang bisa menempel kuat.

Itu kuku itemnya punya ponakan (hayah)
Setelah itu, ambil sedikit Tack It sesuai kebutuhan dan bulatkan kecil. Tempelkan di balik kertas atau benda yang hendak ditempel. Sebaiknya, lapisi kertas yang akan ditempel tac dengan isolasi. Setelah itu, tempelkan di papan dengan cara menekan bagian yang ada Tack It-nya. Apabila sudah tidak akan digunakan lagi, ambil Tack It dan kumpulkan dengan Tack It lain yang sudah digunakan.

Berapa harganya?
Murah bingitz.. Yang saya beli harganya sekitar 14 ribu per pack, isi 6 baris dan tiap baris terdiri dari 18 kotak. Karena saya tipe irit, jadi satu kotak saya gunakan untuk banyak kartu, hehe 

Beberapa kali sharing dengan guru bahasa Inggris di sekolah lain, saya jadi tahu bahwa Tack It ini sungguh sangat menyedihkan keberadaannya. Tak banyak yang tahu dan memanfaatkan benda ini di kalangan sekolah. Padahal banyak gunanya banget lho, nggak cuma untuk mengenalkan gambar dan kosa kata saja, tapi bisa juga digunakan untuk pengenalan susunan kalimat. Lain kali akan saya post salah satu contoh permainan menggunakan tac ini. Nggak hanya di kelas, saya juga menggunakannya di English Club ato sekedar les private biasa lho.

Mengajar tanpa media (apapun bentuknya) itu bagai memasak sayur tanpa garam, hambaaaar.. dan nggak ada istimewanya sama sekali. Iya kan?

Semoga sharing kali ini berguna bagi yang membutuhkan, terutama para guru Bahasa Inggris yang mau susah payah mengajar dengan bantuan media. Semangat ya bapak ibu guru 

Sabtu, 10 Agustus 2013

Jangan Jadi Guru yang Money Oriented

Bekerja di sekolah itu pilihan. 
Pilihan untuk mengabdikan hidupnya demi mencerdaskan anak bangsa. Memilih untuk menguras tenaga dan pikirannya demi kepentingan anak-anak yang bahkan bukan hanya anaknya sendiri. Tidak salah jika banyak yang menggunakan istilah "pahlawan" untuk menyebut guru. Bukan karena guru menjadi penolong di setiap kesulitan, tapi karena guru layaknya pahlawan dalam perang yang berjuang agar masyarakat menjadi lebih cerdas dan beradab guna melawan kebodohan yang menyengsarakan.

Selayaknya pahlawan, guru sewajarnya ikhlas dan tidak mengharap pamrih apapun untuk tugasnya. Namun, pemerintah dan sekolah memiliki cara masing-masing untuk menghargai jasa guru. Bahkan seorang guru private pun diberikan penghargaan oleh orang tua wali berupa gaji. Seperti yang sudah diketahui khalayak umum, gaji seorang guru tidak seberapa dibanding gaji pegawai behind the desk. Bahkan rata-rata gaji seorang guru tidak tetap (non - PNS) cuma 10-50% gaji guru PNS. Dengan gaji yang dibilang pas-pas an ini, seorang guru masih tetap semangat mengajar para anak didiknya.

Sayangnya sebagian guru dan karyawan di sekolah masih menghitung "jasa" yang diberikannya dengan rupiah. Di sekolah negeri, pada umumnya, guru berlomba menghitung berapa jam dya mengajar di luar jam pelajaran, berapa lembar jawab yang telah di koreksi, berapa besar tenaga yang tercurah selama menjadi panitia suatu acara di sekolah. Kemudian, hitungan-hitungan itu dikalkulasikan dan di kurskan dalam bentuk rupiah. Sebagian guru dan karyawan menuntut hak mereka dengan tidak tahu malunya. Tanpa ampun menyindir ato bahkan mencecar bendahara sekolah yang belum mengucurkan uang lelahnya. Yah, seharusnya guru, karyawan dan bendahara sama-sama tahu lah. Ibaratnya keluarga miskin, tak mungkin kan kita meminta uang jajan sementara orang tua sedang pusing memikirkan cara menanak nasi tanpa beras. Tapi sebaliknya, ibarat keluarga kaya, tak mungkin pula orang tua membiarkan anaknya kelaparan sedangkan nasi lauk pauk tersedia di meja makan.

Di sekolah saya misalnya, dana BOS yang diterima benar-benar digunakan untuk menggaji guru/karyawan dan menutup kebutuhan siswa (let's say, fotokopi worksheet yang tiap guru menghabiskan 4 - 6 ribu per kelas per mata pelajaran). Lalu apa kabar dengan uang UKM (uang kebaktian murid) yang tiap bulan rutin dibayarkan siswa? Aah, jangan ditanyakan besarnya karena jumlahnya tak seberapa. Dana itu untuk membiayai kegiatan sekolah lain yang tidak tercover BOS. Murid-murid kami dari golongan menengah ke bawah. Maka ukm yang terkumpul tidak lebih banyak dari 6juta/bulan. Andai saja para guru ditempat kami menghitung waktu lembur, waktu mengkoreksi dan waktu les dengan hitungan pasti sesuai ketetapan pemerintah, maka sekolah kami mungkin akan jatuh miskin. Dari mana sekolah bisa membayar uang lelah itu? Tak mungkin sekolah membebankannya kepada murid-murid. Sedangkan tidak sedkit dari mereka yang menunggak ukm.

Beberapa kasus yang saya dengar, justru sekolah-sekolah berpotensi terjadi perpecahan antar guru. Siapakah biang keladinya? Tak lain tak bukan adalah "uang". Hanya karena uang dan gengsi, maka terciptalah gap antara GTT/PTT dan PNS di sekolah-sekolah tertentu. Ambillah contoh, saat guru GTT/PTT menerima tunjangan yang nilainya cuma 10% dari gaji PNS sebulan, maka akan terjadi perang dingin antara kedua grup tersebut hanya karena para GTT/PTT tidak berbagi dengan guru PNS. Lalu, apakah saat guru PNS menerima gaji ke-13 para GTT/PTT meminta bagian? Oh tidak.. Kami para GTT/PTT sudah terbiasa "nrimo". Benarkah "nrimo"?

Ambillah contoh saat saya bergabung di Grup Operator sekolah. Banyak info yang sangat membantu disana. Tapi suatu saat saya menemukan satu member di Grup itu (membernya either guru ato TU) yang mengupload file persetujuan guru untuk membayar operator. Oke, operator (termasuk saya) dibayar juga boleh karena memang ada juknisnya. Tapi mata saya terbelalak saat membaca isi draft persetujuan tersebut. Tak tanggung-tanggung, GTT wajib membayar 50rb dan PNS sebesar 200-250 ribu kepada operator. Kalo di sekolahku ada 5 PNS dan 17 GTT dan PTT, maka saya akan mendapatkan 1 juta 850 ribu rupiah sekali mengisi data. Gilak!!!

Saat itu, panas ada di ubun-ubun. Maka saya tanggapi statusnya dengan kritikan dan leave the page as soon as possible. Aku nggak habis pikir kenapa ada orang yang money oriented seperti itu. Tunjukkan loyalitas untuk sekolah dan jangan banyak menuntut. Sekolah bisa saja membayar jasanya (since my principal offered it too, but we refused it). Silahkan kalau sekolah atau PTK berkenan membayar jasa si operator. Tapi I never like begging the money for any reason. Mengemis itu bukan sifatku. For me, kalau tidak mau kerja dengan bayaran sedikit, simply leave your school, find another job! Never ever dream of earning much much much money in the school. We (baca: school teachers and staffs) suppose working at school for the sake of students' quality.

Jadi, anda termasuk guru atau staff  yang money oriented ato bukan?

Sabtu, 15 Juni 2013

Menulis Ijazah? Santai Saja


Menulis Ijazah bukan sesuatu yang menegangkan. Asal semua dokumen lengkap, maka silahkan menulis. Pedoman penulisan Ijazah biasanya diberikan beserta blanko Ijazahnya. Dan biasanya, sebelum blanko diberikan, UPT setempat memberikan pengarahan tata cara menulis Ijazah.
Di bawah ini contoh penulisan ijazah. Tapii, berhubung ijazah resmi dari pusat belum turun, jadi contohnya pake ijazah dari yayasan aja ya . Mirip-mirip kok... *maksa


Perlengkapan
Setiap orang perlu kenyaman sendiri-sendiri agar bisa bekerja dengan hati tenang. What do I need? Aku memerlukan ini:.
  1. Dokumen Fotocopy Akte Siswa
  2. Hard file pengisian ijazah yang diperlukan (download disini)
  3. HP, earphone, musik
  4. Kacamata (aku cylinder 0,5 di sebelah kanan, dan 0,25 di sebelah kiri)
  5. Meja yang bagian atasnya rata dan nyaman dipakai
  6. Clipboard untuk alas menulis
  7. Sendok makan untuk menghaluskan bagian kertas yang kasar setelah dihapus.

Peralatan
What should you need? Yang wajib ada sebelum mulai menulis adalah:
Cek peralatan dulu
  • 2 Penggaris plastik elastis. Dipotong menjadi 4 bagian. Fungsi penggaris ini untuk panduan penulis supaya huruf-hurufnya sama tinggi dan rapi. Thanks for Pak Medi yang sudah memberikan tips menulis ala typewriter
  • Penggaris A (untuk Nama Siswa):  2 bagian di tata dengan jarak antar penggaris 0,4 cm. Plester di setiap ujungnya.
  • Penggaris B (untuk Selain Nama Siswa): 2 bagian penggaris di tata dengan jarak 0,3 cm. Plester di setiap ujungnya.
  • Drawing Pen DR ukuran 0.5 --> untuk menulis Nama Siswa pada bagian depan Ijazah
  • Drawing Pen DR ukuran 0.3 --> untuk menulis Nama Siswa pada bagian belakang Ijazah dan Nama Kepala Sekolah
  • Drawing Pen DR ukuran 0.2 --> untuk menulis selain Nama Siswa dan Nama Kepala Sekolah
  • Penghapus ballpoin dan penghapus pensil.
  • Pensil

Steps menulis Ijazah


  •  Ucapkan bismillah, wajib untuk setiap memulai kegiatan 
  • Cocokkan file isian dengan Akte Siswa
  • Siap-siap menulis, dan ingat, tulisan tidak perlu dibuat ala kaligrafi.
  • Tulis nama siswa di ujung kertas lain dengan huruf kapital menggunakan penggaris A dan DR 0,5. Letakkan kira-kira pas di tengah tempat menulis nama
Pas di tengah-tengah
  • Pasang penggaris A di tempat menulis nama kira-kira 1mm di atas titik-titik. Mulailah  menulis nama di dalam sela-sela penggaris sambil pastikan ejaan  nama tertulis benar.
Hati-hati ya
  • Isian di bawahnya, tulis tempat tanggal lahir, nama orang tua, sekolah, NIS, tempat tanggal penerbitan ijazah, dan NIP/ NBM Kepala Sekolah menggunakan penggaris B dan DR 0,2 dengan huruf kecil tapi EYD. Pastikan menulisnya kira-kira 1 mm di atas titik-titik. Hasilnya akan lebih rapi, percaya deh,

  • Tulis nama kepala sekolah dengan huruf kecil EYD menggunakan penggaris B dan DR 0,3.
Contoh Bagian Depan Ijazah Muhammadiyah
  • Di belakang ijazah, tulis nama siswa dengan huruf kapital menggunakan penggaris B dan DR 0,3
  • Selain nama siswa dan kepala sekolah, diisi dengan penggaris B dan DR 0,2
Contoh Bagian Belakang Ijazah Muhammadiyah
  • Jika diperhatikan, tempat penerbitan ijazah ini tertulis JETIS (Kecamatan). Ini benar-benar salah. Please, jangan ditiru. Penulisan tempat penerbitan ijazah seharusnya ditulis BANTUL (Kabupaten). Untungnya, Ijazah yang aku tulis ini bukan ijazah resmi pemerintah. Jadi, yang sudah terlanjur salah, ya sudahlah..
  • Cek ulang, dan pastikan tidak ada yang salah tulis
  • Jika menyadari adanya salah, segera berhenti dan istirahatlah. 
  • Selanjutnya, tinggalkan blanko tersebut dan lanjutkan dengan blanko yang baru dengan tetap mengisi dengan urutan siswa selanjutnya.
  • Kumpulkan blanko yang perlu dikoreksi, sisihkan.
  • Jika semua blanko sudah selesai diisi, kembali lah pada blanko yang salah.
  • Dengan penghapus pen, hapus sedikit demi sedikit sampai kira-kira huruf bisa di tumpuk dengan rapi.  Sayang, kertas ijazah dari yayasan mirip kertas piagam biasa. Tiap di hapus jadi jelek begini)
Contoh salah tulis dan sudah diralat dengan penghapus
  • Kalau agak takut, gunakan pensil tipis-tipis sebelum menulisnya lagi dengan DR. Turunkan 0.1 untuk tulisan yang salah. Misal salah saat menulis dengan DR 0.3 (liat contoh), maka saat meralat, gunakan DR 0.2. Kertas yang sudah pernah dihapus akan kasar dan tinta yang ditoreh di atasnya akan "bleber" menjadi lebih tebal dari ukuran seharusnya. Dengan pen DR 0.2, tinta tidak akan melebihi ukuran DR 0.3 sehingga tidak terlalu kelihatan kalau huruf itu salah. Satu lagi tips yang diberikan oleh seorang teman blogger. Kertas yang kasar bekas dihapus, bisa diratakan kembali dengan sendok. Caranya seperti saat kita menghaluskan obat. Ternyata sendok banyak gunanya ya selain untuk makan, hehe
  • Tidak disarankan menggunakan cairan penghapus tinta. Daripada kertasnya malah jadi rusak. Jangan tergiur pula membeli cairan penghapus tinta secara online, meskipun klaimnya tokcer bisa menghilangkan bekas tinta. Saya pernah terpikir untuk membeli, tapi untung saja saya googling dulu dengan kata kunci penipuan diikuti nama olshopnya. Dan terbukti banyak yang tertipu. Hati-hati ya..
  • Jika blanko benar-benar tidak bisa dikoreksi, maka siapkan surat penggantian ijazah, dan segera meluncur ke dinas propinsi thumbs up
  • Selesai
Awalnya aku pikir menulis Ijazah (Resmi dari pemerintah) akan banyak menyita waktu. Dan, pada pengalaman pertama, memang aku sangat tegang karena takut salah. Hasilnya, aku salah menulis huruf bahkan salah mengisi nama untuk sekitar 5 lembar ijazah. 3 lembar hanya salah tulis huruf dan atau angka, jadi dengan penghapus dan diperbaiki sedikit, ijazahnya sukses direnovasi. Sayangnya, 2 lembar lagi agak repot untuk dihapus. Jadilah aku mengajukan surat penggantian ijazah ke Dinas Pendidikan Provinsi bagian Sekolah Dasar. Kalo Dikpora Yogyakarta, kantornya ada di sebelah selatan Stadion Mandala Krida Lantai 2.

Begini nih format Surat Penggantian Ijazah yang boleh dicontek. Tidak sulit kok mengajukan penggantian blanko Ijazah. Tinggal membawa suratnya 2 lembar, blanko asli dan fotokopi blanko ijazah yang salah tulis. Di sana ada petugas yang siap menerima, dan aku tinggal menunjukkan bagian mana yang salah tulis.

Well, karena tahun ini pengalaman ke-2 ku untuk menulis Ijazah, aku sudah tidak perlu tegang lagi. Salah tulis itu manusiawi dan pemerintah memakluminya. Buktinya, betapa mengajukan penggantian blanko Ijazah itu mudah. Tapi jangan juga mempermudah lho, tetap berhati-hati, jeli dan teliti. Usahakan tetap rapi dan enak dibaca. Sekian.

Sabtu, 25 Mei 2013

Kelompok Kerja Guru, What is it for?

Setiap kali ada sms dan saat itu saya ada rapat KKG, recipient di seberang selalu membalas
"KKG ki opo, Ndunk?"

Aduh eneng.. ternyata yang namanya KKG itu nggak familiar ya? 
Well, KKG stands for Kelompok Kerja Guru (biasanya di tingkat SD) atau di tingkat sekolah menengah KKG ini lebih dikenal sebagai MGMP, Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Yang intinya, di KKG dan MGMP, guru-guru mata pelajaran tertentu berkumpul secara rutin untuk membahas masalah krusial yang berhubungan dengan pembelajaran di kelas. Ini nih contoh salah satu acara di KKG Bahasa Inggris SD se-kecamatan Jetis yang saya ikuti. Kebetulan saya termasuk panitia inti dan alhamdulillah acaranya sukses. Anggota aktif dan pasif banyak yang datang. Ya iyalah, acaranya di rumah makan, hehe.. Kalo sedang sepi (ciah, kayak di warung), 10 orang saja nggak ada. menyedihkan deh 

Workshop sekaligus KKG Bahasa Inggris bersama Ibu Pengawas

Secara (istilah yang nggak pas ini sebenernya) saya guru bahasa Inggris, maka saya bergabung dengan KKG Bahasa Inggris SD. Ada lagi sih KKG gabungan se-gugus atau tingkat kelurahan yang terdiri dari 5 Sekolah Dasar. Para guru di 5 sekolah ini bertemu secara rutin 1 bulan 2 kali. Dulu saya pernah ikut karena himbauan dari pengawas. Tapi, saya disana banyak "mlongo"  karena rata-rata anggotanya guru kelas dan yang dibahas juga tentang kepentingan mereka. Jadi, saya absen saja dari KKG gugus ini.

Tinggalah KKG Bahasa Inggris saja yang saya ikuti secara aktif. Bukan pengurus, tapi saya berusaha untuk tetap datang. Nggak rugi lah karena bisa share and gain ilmu tentang pembelajaran di kelas Bahasa Inggris. Nggak bisa dipungkiri, saya sering kesusahan untuk menghandle muridku yang super, dan sedikit banyak para guru ini punya solusi yang bisa saya terapkan di kelas.

Kalau boleh jujur, saya agak bingung juga kenapa saya ikut KKG Bahasa Inggris ini. Di KKG, materi yang dibahas adalah materi untuk SD Negeri. Sedangkan SD-ku ini Sekolah swasta yang punya materi jauuuuuh beda dari sekolah negeri. Nggak ngerti juga kenapa materi bahasa Inggris di SD Negeri dan SD Swasta nggak disamakan saja. Ya sutralah, skip it 

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton iklan edukasi tentang pentingnya MGMP. Iklannya bagus, membangkitkan semangatku untuk selalu ikut KKG. Kalo dipikir-pikir, iya juga sih. Lingkungan Sosialku sekarang lingkungan sekolah, antar sekolah dan dinas pendidikan. Kalau tidak begini, mungkin saya terkungkung di sekolah dan hanya kenal dengan guru di sekolahku saja. Berkat KKG, saya jadi lebih kenal banyak guru di sekolah lain. Bahkan kepala UPT dan pengawas kecamatan jadi mengenalku.

Di tempat lain, banyak teman-teman yang juga guru memilih tidak aktif di KKG atau MGMP. Nggak salah sih, karena mengikuti KKG atau tidak itu pilihan. Mungkin mereka punya pertimbangan lain sehingga mereka enggan ikut KKG atau MGMP. Menurutku, agak rugi kalo melewatkan kesempatan untuk bergaul dengan sesama guru. Bisa jadi, informasi dari dinas yang sekiranya mouth to mouth tidak sampai di telinga kita. Ambillah contoh tentang format RPP. Setiap tahun, format RPP ini selalu ada saja yang berubah dan tiap pengawas punya format RPP yang menurut dia qualified. Entah itu susunan Indikator dan Tujuan Pembelajaran yang dipindah-pindah, atau justru tentang Nilai Karakter Kebangsaan yang wajib muncul di tiap RPP. Kalau saja sekolah tempat mengajar tidak kooperatif untuk berbagi info, siapa coba yang mau memberitahu kita kalau bukan teman guru di KKG?

Yang paling sering terjadi sih, guru selalu kebingungan untuk mencari file RPP yang sesuai dengan mata pelajaran yang di ampunya. Lucky us saya dan teman-teman KKG punya file administrasi Bahasa Inggris SD yang lumayan lengkap. Mulai dari Silabus, KKM, Prosem, Prota bahkan Aplikasi Analisis butir soal pun ada. Kami biasa berbagi file pada sesama anggota KKG yang aktif. Saya tidak keberatan berbagi file pada anggota-anggota pasif, tapi teman yang lain sering tidak rela membaginya. Resiko ditanggung anggota pasif itu sendiri sih.

Last but not least, yang nggak rajin berangkat KKG, niatkan saja untuk ibadah menyambung silaturahim. Banyak info dan ilmu yang didapat, bonusnya, bisa bernafas lega karena tiap menjelang akreditasi atau lomba gugus, tidak perlu repot browsing dan mendownload file administrasi guru. Ya tho? ya tho?   


Jumat, 17 Mei 2013

English Part 2 (Media)

I was a bit disappointed when some teacher trainees at school taught my kids with no media or worksheet. How could they do that, while I who have been teaching for eight years always prepare the media and worksheets. It's not about their confident in teaching children, but they have to deliver the teaching in an understandable way. 

Then, it comes from my intention to download English worksheets as many  as possible. I cannot teach children without any preparation. Unlike senior teachers, I never sleep early since I have  to plan what I am going to teach, including printing and copying the worksheets. The worksheets are good, but some words are away too difficult for my students. Therefore, I adjust them and collect them into different folders. Whenever  I need, I can open the file and simply print it. I believe it helps me from wasting the time. For the information, I like arranging the folders into good order so that I can find the material I need easily and efficiently.

I guess it is the right place for me to post the media or worksheets I have been written or created. I adopt mine from many sources such as http://busyteacher.orghttp://www.mes-english.com, http://e-classroom.co.za and many more. Hey, it's free to download them 


The disk

Worksheet

Senin, 11 Maret 2013

I Wear Sweater on Cold Day

I know English may be eliminated from the Elementary School. However, I'm still happy teaching those kids especially when they come to me asking for another class. It seems that they like the way I teach. Errrr... To be honest, I believe they just like being in the English class not the teaching 

This night, I have just finished writing an English RPP. This may be (maybe ) useful for the teacher who is gonna teach the 5th graders. Perhaps, this writing would not be used officially in school. It is not that good; however, I or someone else maybe like to use it  whenever he/she finds a dead-end idea.  No body knows 

A brief of what I have written...


RENCANA PELAKSANAN PEMBELAJARAN (RPP)



Kelas/Semester : V/II
Ketrampilan      : Membaca
Topik               : I Wear Sweater on Cold Day
Alokasi Waktu : 2 JP (2x35 menit)

Standar Kompetensi : Memahami tulisan bahasa Inggris sangat sederhana dalam konteks sekolah
Kompetensi dasar      : Memahami kalimat, pesan tertulis dan teks deskriptif bergambar sangat sederhana secara tepat dan berterima.

Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran, siswa dapat membaca teks deskripsi dan memahami isi teks dengan cermat dan teliti.

Indikator

1. Siswa mampu membaca teks deskriptif dengan lafal yang benar.
2. Siswa mampu mengartikan kalimat dalam teks percakapan.
3. Siwa mampu menjawab pertanyaan seputar isi teks.

Materi Pembelajaran
This Monday, the weather is sunny. Suki goes to Parangtritis beach. He wears shorts and sunglasses. He also wears sandals. “It is very hot and windy”, says Suki.


To download the complete version of this RPP, please get it on My Scribd Collection.
See ya in the next post   

 
Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon