Sabtu, 06 Desember 2014

Saya Si GolDar O


Akhir-akhir ini saya sedang mengintrospeksi diri saya sendiri. Saya pengen tahu sifat saya itu bagaimana sih, kok sampai bisa se-umur ini saya tidak berkembang (in a positive way, tentunya). Nah, setelah browsing kesana kemari, ketemulah website yang ini dan yang itu. Saking banyaknya web dengan artikel serupa tapi tak sama, jadi saya ringkas saja ya jadi 20 karakter saja.
Saya memang (sok) sibuk, hiks..

Let's see how I am..
Golongan darah O punya sifat
  1. Terbuka --> bukan buka-bukaan ye.. Saya terbuka menerima saran dan kritik, mendengarkan curhatan temen, sekaligus memberi pendapat tentang masalahnya juga. Tapi belum tentu bisa blak-blakkan terhadap masalah saya sendiri. Masih ada beberapa hal yang lebih seneng saya simpan sendiri.
  2. Enerjik penuh dengan energi dalam menjalani kehidupannya --> Iya.. saya banyak energinya, tapi pada titik terendah saya bisa sangat kehilangan energi. Tenang, saya tidak akan menunjukkannya pada orang lain. Sebisanya saya latihan senyum dulu baru menemui kalian kok, hehe whistling
  3. Fleksibel dan mudah menerima hal-hal baru --> Bener lagi.. saya suka mempelajari hal yang baru. Entah itu ada kaitanya dengan kerjaan atau kehidupan saya. Tapi Fleksibel nya dalam bentuk apa ya? bisa bergaul dengan bentuk manusia apa saja kah? Mungkin iya, buktinya saya bisa masuk perangkap macan saking fleksibelnya 
  4. Seringkali mudah menyerah --> Banget! Saya lebih sering menyerah daripada saya harus sakit hati karena yang saya lakukan tidak sesuai harapan 
  5. Mengatakan sesuatu yang dipikirkannya dengan mudah --> Hahaha.. Yes, I am. Kadang pertanyaan nggak penting yang ada dipikiran keluar begitu saja. Polos kalo kata orang mah. Sampe saya bingung sendiri, kok bisa ya saya terlalu jujur ngomongin sesuatu yang harusnya tidak perlu diketahui orang itu. malu-maluin saja! Eits, tentunya hanya pada orang-orang tertentu saja lho. Saya nggak bisa sembarangan ngomong kalo sekiranya orang itu akan tersinggung dengan ucapan saya.
  6. Menghargai pendapat orang lain --> Hooh.. Yang ini pengaruh pelajaran PPKn sepertinya 
  7. Percaya diri yang tinggi sehingga menjadi pusat perhatian --> No no... Saya nggak gitu PD, cenderung minder malah. Saya benci jadi pusat perhatian. Kaitannya sama tidak PD dan minder itu tadi lho. Tapi saya menutupinya dengan cara saya sendiri. Nggak keliatan kan?
  8. Memiliki jiwa pemimpin, menciptakan keharmonisan dan membangkitkan semangat kelompok tersebut --> Iya kah? Saya nggak ngeuh kalo yang ini. Antara cuek atau saya saja yang kurang gatekan.
  9. Jika O marah, itu hanya luapan sesaat setelah itu mereka nyesel --> Buanget nget.. Misalnya saya berada di tengah-tengah dua orang yang berdebat, saya bisa santai-santai saja lho nggak mau tahu kenapa mereka berdebat. Tapi kalo perdebatannya sudah mulai mengganggu telingaku, darah saya mendidih juga. Biasanya saya meneriakkan 1 kata dengan nada marah ke dua orang tersebut lalu melenggang pergi. Kenapa harus pergi? Karena saya merasa bersalah sudah meneriaki mereka. Itu adek dan kakak saya saksinya, hihihi
  10. Seringkali terlihat sebagai orang yang menerima segala sesuatu dan menjalankannya dengan tenang tanpa banyak tanya --> Bener lagi.. Meski hati tersayat-sayat, saya nggak akan melupakan kerjaan saya kok pak bos..
  11. Jika kesal dengan seseorang, sulit melampiaskannya kepada orangnya langsung --> hahaha.. sometimes I do. Tapi ada kalanya saya ngomong langsung kok, dengan catatan saya bisa meraba-raba reaksi orang tersebut.
  12. Biasanya pemurah alias baik hati, disukai semua orang dan  --> Aduh, yang ini kok rasanya nggak etis kalo muji diri sendiri. Semoga saja ya Allah, aamiin..  Tapi coba saya tanya ke temen-temen dulu  
  13. Terkenal keras kepala tapi punya pendapatnya sendiri dalam beberapa hal --> Wah.. yang ini saya ngaku deh. Kadang kala saya membantah for the sake of argueing saja, asal pengen membantah. Malah saya pernah 2x kena toyor pak bos karena saya ngeyelan, hiks..  Butuh dikurangi nih
  14. Mudah dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya --> Three Yes.. Saya bisa tiba-tiba suka suatu barang saat orang lain memuji barang tersebut memang cocok buat saya. Wah, ini contohnya kok ya pas ngethok-ngethoki nek saya shopaholic tho yo.. 
  15. Memiliki kepala dingin dan mampu memegang kepercayaan --> Berkepala dingin? iyap.. Saya nggak gampang marah kecuali sesuatu itu sudah luar biasa keterlaluan. Karena itulah temen kerja saya menganggap saya cuek. Padahal karena saya punya cara sendiri untuk menghadapi masalah tanpa harus mengandalkan urat (baca: marah-marah). Menurut saya, apa gunanya marah-marah kalo tidak ada pengaruhnya dengan keadaan. Ngabisin tenaga saja deh, ya kan ya kan?
  16. Sangat berhati-hati pada orang yang bukan temannya, dan punya rahasia pribadi yang harus dijaga --> Lho, kok ini beneeeeer banget. Yang ini nggak perlu lah dijelaskan panjang lebar. 
  17. Tidak suka untuk mengalah, namun dia lebih baik mengalah kalo menyangkut masalah persahabatan --> Absoultely Setuju.. Saya lebih suka mengedepankan kepentingan sahabat-sahabat saya di atas kepentingan saya sendiri. Weekend misalnya, ketika saya mau istirahat saja tapi temen-temen membutuhkan saya (ceile), sebisanya saya menemuinya.
  18. Semangat pas punya barang baru, tapi lama-kelamaan lupa merawatnya --> hihihi.. Itu saya banget. Coba dihitung berapa pasang kaos kaki yang saya punya? Trus pasangan yang utuh tinggal berapa hayo?
  19. Kalau dikasih suatu tugas, pasti semangat kalo udah deket-deket deadline --> Ya ampun.. kok ya benar lagi. Yang ini parah banget ya. Saya kurang pinter memanage waktu. Tapi tenang, saya tidak akan melarikan diri dari tugas, bakal menyelesaikan tugas saya minimal 1 detik sebelum deadline. Tepok jidat 
  20. Sering terlambat --> Betul.. Saya sadar kalo saya itu paling sering terlambat. Kalo waktu janjiannya fleksibel, 30 menit sebelum jam janjian saya sudah menginfokan ke temen-temen kalo saya akan terlambat. Jadi nggak terlalu terlambat sih, tapi tetep, bad behaviour of mine. Kebiasaan buruk banget..
    Jadi begitulah 20 sifat berdasarkan golongan darah O, yang kebetulan memang 90% sesuai dengan kepribadian saya. Diantara yang banyak itu saya jadi tahu mana saja yang salah dari diri saya. Oke, soal waktu yang perlu digarisbawahi dengan sangat. Butuh alarm hidup yang bisa membantu saya untuk lebih tepat waktu. Contoh yang paling ekstrim, mungkin si Pak bos akan mengingatkan saya sambil membawakan surat peringatan kerja. Waduh.. Jangan sampe deh


    Terus terus.. Kalian yang golongan darahnya O, punya sifat yang sama seperti saya kah?

    Rabu, 03 Desember 2014

    Anak Tukang Pijit


    Percaya nggak percaya, dari jaman SD saya selalu bingung saat ditanya pekerjaan bapak. Disebut pensiunan, kok itu bukan pekerjaan (karena menurutku pekerjaan itu sesuatu yang dikerjakan). Maka pilihan saya tinggal Petani dan Tukang Pijit. Dan saya milih nulis Petani di formulir pekerjaan bapak. Dulu saya nggak suka kalo bapak jadi tukang pijat. Meski itu bukan pekerjaan aslinya, tapi temen-temen suka ngledekin, “Bapakmu tukang pijet tho?”

    Untungnya saya bukan tipe yang gampang down. Lha wong mereka kalo jatuh keseleo juga dibawa ortunya pijat ke tempat bapak kok. Siapa yang butuh siapa hayo? Hihihi.. 
    Itu dulu sih, sebelum bapaku menyatakan diri berhenti jadi tukang pijit. Padahal sampe sekarang banyak langganan bapak yang kecele. Itu tamu bukan cuma tetangga lho. Sampe mantan temen kerja bapak dulu juga bela-belain kesini. Katanya cuma cocok sama bapak. Saya juga nggak tau kok bapak se-ngetop itu. Darimana beliau punya bakat mijet ini. Buku tentang refleksi dan yang berkaitan dengan pijit memijit bapak memang ada beberapa. Sepertinya beliau cuma belajar dari buku saja.

    Eh, tapi jangan salah. Walo anak tukang pijat, silahkan tanya berapa kali anak-anak bapak minta dipijitin. Kalah bok sama tetanggaku yang bisa tiap bulan minta dipijit. Mungkin karena takut kualat ya, jadi kalau nggak sakit yang amat sangat ya nggak minta dipijit. Atau kalau ngegeletak seharian di kamar, maka bapak nggak akan tega kalo nggak “ngaruhke” sambil mijitin 

    Sik sik, aku arep ngomong opo tho iki?
    Oh iya, ide nulis ini muncul saat lagi enak-enaknya mau merem (sudah pake selimut dengan posisi tidur yang pewe), ibu bangun sambil meringis "kok mumet tenan ki piye, ndang. Melek mubeng-mubeng, turu yo podo wae." Maka saya bangun dari tiduran dan memijat pundak dan kepala ibu. Harusnya saya juga memijat kaki ibu, karena kata bapak sumber penyakit itu adanya di kaki dan tangan. Beberapa kali bapak memberi contoh pijatan di kaki yang berhubungan dengan pusing. Sayang, saya lupa di titik bagian mana yang berpengaruh dengan pusingnya. Tapi tanpa dipijat kaki pun pusing ibu sudah sedikit berkurang.

    Ini dya, saya unggah foto refleksi yang mungkin berguna..
    Credit to info herbalis
    Pijat memijat sudah menjadi tradisi di rumah. Dan sudah tradisi juga kalau mau dipijit ya kudu gantian mijit. Simpelnya, kalau adeku minta dipijit 5 menit, maka gantian dya mijit saya 5 menit. Jadi, tiap mau pijit-pijitnya, musti pasang timer di hape. Nggak ada yang protes, karena ini win-win solution, adil 

    Yang paling sering jadi tukang pijit keluarga itu saya. Kalau Ibuk sudah mengeluhkan badannya yang sakit, tandannya beliau minta dipijit. Kalau yang ini sih saya nggak berani gantian minta dipijit. Dulu sih berani minta pijat balik. Kualat ya, pyaaak.. *dikeplak pake kipas sate

    Kemarin ini lagi-lagi dengan bangganya Ita bilang “Sak omah ki pijitanmu sik paling manteb. Bapak we kalah”. Ibu sama mbakku juga pernah bilang begitu. Ya iyalah, pembandingnya cuma orang serumah saja. Ge-er nggak sih? Enggak lah, biasa aja. Ntar kalo di iya-in, bisa tiap hari suruh mijitin dong. Adekku juga bertanya, “cara mijit sik enak ki piye tho?”. Aduh, apa ya. Mungkin gen mijitnya bapak nurunnya ke saya. Makanya saya jadi bisa mijit begini. Tapi saya nggak percaya lho ada talenta yang menurun lewat gen ini. Apalagi talenta memijit, ckckckck 

    Sudah sudah, daripada ngomong kanan kiri. Cukup sudah sampai disini posting nggak jelas ini. Yang sedang butuh dipijit, jangan lirik saya it wasn't me

    Jumat, 21 November 2014

    Penipuan Berdalih Undian


    Pagi tadi di sekolah, saat sedang berjuang melawan kantuk, Pak Lik meminta saya datang ke rumahnya sebentar karena ada keperluan. Takut di cap durhaka winking , saya pun langsung meluncur menemui beliau sambil mengkira-kira apa yang akan dibicarakan pak lik. Sesampainya disana, saya disodori koran yang berisi iklan seperti ini..
    Iklannya meyakinkan ya..

    Dapatkan angka 114 dan menangkan 2 motor honda Beat. Cari tahu sekarang:
    Ambil 2 angka terakhir pada tahun kelahiran anda 
    Lalu tambahkan dengan umur anda tahun 2014 ini 
    Apakah anda mendapatkan angka 114? 
    Kirimkan jawaban anda dan dapatkan informasi cara memenangkan hadiah 2 motor Honda Beat



    Gimana? gampang dan menggiurkan bukan?

    Mari menganalisa kenapa pak lik tertarik dengan iklan ini. Pak lik lahir di taun 1939. Umur beliau sekarang (tahun 2014) adalah 75 tahun. Sesuai perhitungan yang tertera di iklan, 39 + 75 = 114. Waaaah.. Pas banget 114. Berarti di kisaran umur pak lik lah yang berkesempatan  mendapat honda beat.


    Eits.. 
    Kalo hanya menghitung tahun lahir dan umur sendiri pasti mengira itulah angka keberuntungannya. Ayo dicoba menghitung kemungkinan lain yang tak terpikirkan oleh pak lik. Saya ambilkan contoh dari generasi yang berbeda ini:
    • Bapak     = 35 + 79 = 114 
    • Ibu         = 48 + 66 = 114 
    • Saya       = 85 + 29 = 114 
    • Ponakan  = 92 + 22 = 114 
    Ternyata hampir semua tahun lahir dan umur bisa dijumlahkan dengan hasil 114, kecuali yang lahir diatas tahun 2000. Pinter tho si penyelenggara undian (jika ini disebut undian). Saya saja hampir mengira pak lik beruntung tuh. Apalagi Pak lik sampai menyatakan keinginannya mengikuti undian ini. 

    Awalnya saya juga nggak ngerti undian macam apa itu. Agak mencurigakan karena undian ini bukan dalam rangka apa-apa. Saya juga nggak membaca ada PT. Bla Bla Bla yang tercantum. Beruntung saya masih bisa sedikit membaca keterangan undian yang hurufnya subhanallah, kecil banjet. Pusing saya membaca paragraf yang isinya banyak kalimat tanpa titik koma,  mirip tentara se-Jogja lagi latihan baris berbaris phbbbbt. Tapi saya mencoba membaca keras-keras supaya pak lik tahu isi dari keterangan tersebut. Yang intinya pemenang undian akan dikirimi katalog dan harus membeli barang. Mirip-mirip lah sama model undian gosok pake amplop yang ada di jalan-jalan itu.  

    Yang saya herankan, iklan ini kok bisa masuk di KEDAULATAN RAKYAT ya. Bahkan iklan serupa tapi tak sama juga pernah muncul di JAWA POST, KOMPAS dan Tabloid NOVA. Nama-nama tersebut bukan koran ato tabloid "ecek-ecek" lho. Wow.. Meski iklannya sembarangan, tapi pembaca tetap harus cerdas dong. Penting untuk diingat, iklan yang too good to be true (terlalu bagus jadi nyata) seperti ini memang impossible waiting

    Satu lagi pesan saya.. 

    Tolong dengan sangat, sampaikan model penipuan dari yang sederhana sampai yang berat kepada para orang tua yang ada disekitar kita, dimulai dari orang tua masing-masing. Belum lama ini saudara yang sudah sepuh dan terpelajar tertipu beberapa juta. Modus penipuannya via telpon, dimana penipu mengabarkan bahwa anaknya ditangkap polisi karena terjerat narkoba. Pernah dengar penipuan macam ini kan? Yup, so last year, jadul ini mah.. Tapi, nggak semua orang (apalagi orang tua)  tahu lho kalo ini termasuk modus penipuan. Itu pak lik saya buktinya.

    Sekian.. Semoga bermanfaat dan semoga kita serta orang yang disayangi selalu dalam lindungan Allah. Aamiin..

    Tetap Hati-hati dan waspada. Jangan sampai jadi korban penipuan ya..

    Sabtu, 15 November 2014

    Side A Side B

    taken dari sini

    Suatu hari saat di kelas 6 putri yang isi penghuninya siswa putri semua (ya iyalah, namanya juga kelas putri)... 
    Saya menggunakan waktu mengajar untuk membantu mereka mengisi angket Evaluasi Diri Sekolah. Salah satu butir angket tersebut berbunyi :
    Hal yang kamu sukai dari guru ketika mengajar adalah
    (apakah) mampu memberikan inspirasi (?)


    Siswa putri bersahut-sahutan menjawab. Ada yang mengiyakan, ada pula yang menolak. Kemudian, karena saya memang keponya tingkat tinggi, saya bertanya “Siapa guru yang menginspirasi kalian?” 

    Salah satu anak menjawab “pak X, bu” 
    Dan diiyakan oleh anak-anak yang lain. Saya kaget bukan kepalang. Pasalnya pak guru yang disebut oleh anak-anak ini salah satu guru yang kurang disukai oleh hampir semua anak di sekolah. Mereka bahkan lebih sering berkomentar miring tentang beliau daripada positifnya. Eh, saya juga kadang-kadang, pak. Astagfirullah, maaf ya pak.. *sungkem big grin

    Nah, lanjut ya.
    Mendengar jawaban anak-anak tadi kepo saya semakin menjadi-jadi.

    “Oh.. jadi kalian terinspirasi pengen menjadi seperti pak x?”, tanya saya sambil nyengir. 
    Serentak anak-anak teriak “Enggak bu. Bukan gitu” 
    “Terus? Coba saya diceritain, apa yang membuat kalian terinspirasi?”, tanya saya serius. 
    “Soalnya dulu pas kecil pak x ngumpul-ngumpulke kardus ning sampah go sekolah, bu. Ya pokoke bekerja keras ben iso sekolah”.

    Dan mengalirlah banyak kisah masa kecil pak x yang tidak dirasakan oleh anak-anak saat ini. Yang, tentunya saya tidak pernah mendengarnya karena saya dulu tidak diwulang sama  beliau. Mendengar celoteh anak-anak ini saya jadi mikir-mikir. Dibalik kekurangan seseorang pasti ada hal baik yang bisa dilihat. Seorang anak kecil saja bisa netral melihat orang dari dua sisi, kenapa orang dewasa susah ya?

    Kok ya ketika kita bertemu dengan orang yang dari kesan pertama negatif,  dan ternyata selanjutnya juga negatif,  kita jadi menilai orang itu buruk terus. Mungkin iya kata pepatah, "Nila setitik rusak susu sebelanga". Gara-gara salah sedikit saja, hilang kepercayaan orang terhadapnya. Tapi gara-gara pepatah ini kita jadi lupa sama yang namanya asas keadilan.

    Seharusnya kan kita juga bisa lebih adil menilai orang dari segi positifnya juga. Sejelek-jeleknya orang, pasti ada sifat baiknya. Sebejat-bejatnya orang, ada masanya orang tersebut kembali ke jalan yang benar. Kenapa kita nggak memberikan kesempatan orang tersebut untuk menjadi lebih baik? Kenapa pula kita nggak ngomongke kebaikan-kebaikannya? Masih banyak hal yang bisa dilihat dari seseorang diluar keburukannya. Jadi capek juga kan otaknya kalo tiap hari nyacati uwong waeh. Kapan bersihnya otak ini coba?!

    From now on..
    Saya harus lebih bisa bersikap adil pada orang untuk melihatnya dari dua sisi,  side A terus dibalik ke side B. Karena saya sendiri pun belum tentu dinilai baik terus oleh orang lain. Intinya sih lebih bakhusnudzon kali ya. So, mari kita budayakan khusnudzon rather than suudzon.. thumbs up

    Kamis, 06 November 2014

    Dua Senin Dalam Setahun


    Menjadi pembina upacara bukan hal yang langka bagi saya. Sejak tahun 2012, sekolah kami menerapkan sistem sama rata sama rasa (aih istilahnya cyin...)
    foto idem yang pertama yak...
    Pokoknya semua guru di sekolah wajib mendapat giliran menjadi pembina upacara (beruntunglah para karyawan). Tidak satu guru pun yang boleh mangkir dengan alasan apapun. Misal saya tidak bisa menjadi pembina upacara pada senin ini, maka tugas saya diganti pada senin depan. Gilirannya pun ditentukan urut dari yang paling tua ke yang paling muda. Kebetulan meski jumlah guru nambah, saya tetap di urutan terakhir. Alhamdulillah, ada untungnya jadi yang paling kecil meski masih ada 3 karyawan yang lebih kecil dari eyke  big grin. Saya jadi punya waktu lebih untuk menentukan tema amanat yang akan saya sampaikan. Errr.. bukan amanat sih,  kulpum saja ya disebutnya. Soalnya selalu dibawah 10 menit saja,  hihihi...

    Saat pertama kali menjadi pembina upacara, saya ingat betul saat itu saya masih takut dan grogi. Ngajar di depan ratusan pasang mata itu biasa, tapi kalo di depan puluhan guru dan wali murid (yang lagi nunggu anaknya) rasanya mak jedeeeer... pengen menghilang saja. 

    Seminggu sebelum hari upacara saya sudah pusing mencari topik amanat. Saya bukan orang bertipe spontan, makanya saya merasa perlu mencatat kalimat apa yang akan saya ucapkan. Bahkan kata "eh" saja harus saya tulis lho, hahaha... rolling on the floor

    Nggak papa deh, kan dengan begitu saya jadi bisa menghafal kultum dengan mudah sesuai dengan bahasa saya sendiri. Tentunya, saya jadi bisa sekalian mengedit bahasa mana yang cocok ato nggak bagi anak-anak.

    Lucu kalo mengingat-ingat saat itu. Tapi pengalaman adalah guru yang terbaik, pengalaman nekat bertanggungjawab tentunya. Kalo nggak begitu saya nggak bisa nyantai sekarang. Yap, pada giliran saya ke-tiga dan selanjutnya, saya jadi sedikit menyepelekan tugas kenegaraan ini. Nggak pernah lagi saya menyiapkan materi kultum jauh-jauh hari. Paling-paling malam senin sebelum tidur saya browsing nyari inspirasi sebentar. Kemudian cukup menghafal poin-poinya (sekitar 2-3 poin) dan mengembangkan sendiri sesuai bahasa saya.

    Materi amanat pun hanya seputar sekolah. Misalnya, kebersihan kelas, tata tertib sekolah atau motivasi belajar yang kesemuanya berdasarkan pengalaman dan masalah yang saya temui selama mengajar. Yes, saya nggak suka tema yang berat-berat semacam makna sumpah pemuda. Ini pilihan saya saja sih. Daripada saya ngomong dengan bahasa nasionalis mending amanatnya ala ngobrol-ngobrol saja. Saya takut anak kelas 1 malah bengong nggak ngerti saya lagi ngomong apa. Mending kalo dengerin tapi nggak ngerti. Kalo nggak dengerin sama sekali kan bikin sedih, sajak e useless banget gitu raised eyebrows

    Nah, senin kemarin adalah giliran saya menjadi pembina upacara. Kalo dihitung menggunakan rumus matematika, halah, kira-kira itu tugas saya yang ke enam. Karena ada 18 guru di sekolah dan ada 52 senin dalam setahun, maka masing-masing guru mendapat giliran menjadi pembina upacara sejumlah tiga kali dalam setahun (pembulatan ke atas). Tapi tapi... sebelum giliran saya yang ketiga dalam setahun tiba, tahun pelajaran sudah berakhir. Dan tiap awal tahun ajaran baru, urutan pembina upacara ini akan di reset, diulang dari awal lagi. Praktis, hanya dua senin dalam setahun saya (dan beberapa guru diatasku) berkesempatan menjadi pembina upacara. Beruntung kan saya? tongue thumbs up
    Temen-temen sesama guru muda kadang jadi ngiri dengan keberuntungan kami itu, hihihi...

    Begitulah kisah saya menjadi pembina upacara. Kalo saya baca-baca di google, banyak juga yang punya pengalaman seperti saya. Nggak sulit dan nggak menakutkan tho? Alah bisa karena biasa. Namun, meski sudah nggak gitu grogi ditunjuk jadi pembina upacara, tapi tetep lho pak (kepsek) saya ogah kalo disuruhnya mendadak it wasn't me

    Selasa, 28 Oktober 2014

    Dokter Vs Jerawat Part 2


    Salam...

    Hari ini hati saya sedang sedikit berbunga..
    Ceritanya dimulai saat sebulan lalu saya akhirnya menyerah menggunakan skincare produk OTC maupun MLM. Jerawatku masih timbul tenggelam saja, padahal sudah mencoba produk murah sampe produk mehil (Melilea kan mahal bagiku, hiks). Saya sudah mencoba setia pada satu produk dan sabar menunggu hasilnya. Ya minimal 6-8 bulan trial baru memutuskan untuk pindah produk lain. Tapi sepertinya saya masih kurang sabar, frustasi melihat jerawat yang kayak bisul dan nggak kunjung ngilang.

    Makin desperate lagi saat sedang ngobrol-ngobrol, temanku memandang wajahku penuh keheranan sambil berkata "kamu nggak pengen po jerawatmu hilang?"
    Jleb jleb.. sakitnya tuh disiniiiiii! *nunjuk jerawat
    Suer, saat itu saya yang sedang happy langsung down. Nggak kelihatan sih dari luar. Padahal dalem hati nangis, pengen teriak "Menurut ngana?!"

    Yah, setelah menimbang-nimbang, saya kemudian memutuskan pergi ke poli kulit di RS Wirosaban. Dulu teman-teman kuliah banyak yang cocok dengan dr. Rikyanto. Dan saya jadi tertarik untuk kesana juga. Padahal saya dulu pernah bilang di sini kalo saya nggak mau lagi ke dokter (untuk ngurusi jerawat). Ternyata, keadaan berkata lain, hehe

    Pendaftaran
    Saya sebenarnya kurang ngerti proses pemeriksaan di Wirosaban, tapi setelah bolak balik bertanya pada petugas, akhirnya bisa juga saya periksa. Pertama, saya mengambil nomor antrian pendaftaran di pintu depan (yang menghadap timur). Ada petugas jaga disana, jadi sekalian saya tanya dokter kulitnya ada atau tidak. Karena saya pasien baru, saya diminta mengisi form pendaftaran yang saya ambil di bagian informasi (di samping mesin antrian). Selanjutnya saya menunggu antrian di ruang tunggu yang ruame. Nomor undian antrian saya 315 (itu saya nyampe lokasi jam  8 pagi). Sedangkan nomor  antrian yang sedang berjalan adalah.......... 156. Subhanallah, masih setengahnya lagi. Untung saya ini sabar  tongue

    Setelah nomor antrian saya dipanggil, petugas kemudian bertanya tujuan saya mau priksa ke poli apa. Beliau memberikan saya kartu periksa, nomor antrian poli kulit dan tagihan jasa konsultasi sebesar 25ribu saja. Wow, ini setengahnya dari jasa konsultasi di PKU dulu. Saya membawa tagihan tersebut ke kasir penetapan biaya di sebelah selatan, di samping kiri loket BPD. Setelah beberapa waktu, saya dipanggil oleh petugas BPD untuk membayarnya.
    Kartu Periksa Saya

    Pemeriksaan di Poli Kulit
    Selesai membayar, saya kemudian menuju poli kulit. Poli ini berada di sebelah utara agak barat. Sesampainya di poli, saya memberikan nomor antrian ke petugas (koas). Saat panggilan pertama, petugas akan bertanya keluhan saya. Lalu saya menunggu (lagi) untuk panggilan kedua (konsultasi). Saat konsultasi ini, dokter memeriksa kulit wajah saya sambil bertanya skincare yang saya gunakan selama ini. Dokter juga meresepkan obat apa saja yang sesuai dengan keluhan saya.

    Keluar dari ruang dokter, saya di arahkan ke petugas obat yang ada di sebelah utara ruang dokter. Ibu petugasnya ramah, saya bisa ngobrol sekalian konsultasi lagi big grin *modus. Beliau bahkan menyarankan saya mengurangi obat yang sekiranya kurang perlu. Dalam rangka mengurangi biaya tentunya. Alhamdulillah, lebih irit daripada skincare yang kemarin dulu saya pakai love struck
    Kuitansi obat
    Nah, nota tersebut kemudian saya bawa ke kasir BPD. Selesai membayar, saya kembali lagi ke petugas di poli kulit untuk mengambil obat (ribet ya). Empat macam skincare, lebih tepatnya, saya bawa pulang. Botol panjang di sebelah kanan adalah facial wash, yang harus saya pakai cukup 2x sehari. Disebelahnya adalah krim jerawat malam, tabir surya (yang sudah ada obat jerawatnya juga) dan toner. Setelah sekitar 1 bulan lebih 10 hari, tabir surya saya akhirnya habis. Sedangkan obat yang lainnya masih ada sisa setengah. Nggak heran, karena tabir surya ini yang paling sering saya gunakan.
    Obat dari dokter

    Review
    Di awal pemakaian, saya agak ragu apakah obat ini akan cocok dengan wajah saya. Apalagi masih ada saja jerawat yang tumbuh di mana-mana, bahkan jerawat baru numbuh di bekas jerawat lama. Bikin stress kan.. Tapi saya tetap bersabar kok, kan belum 6 bulan, hehe.. Lagipula, hasil yang cepat justru membuat saya khawatir atas keamanan produk tersebut. Dan kesabaran berbuah manis. Saya akhirnya sedikit terbebas dari ganguan jerawat. Tidak benar-benar bebas sih, karena masih ada sisa jerawat kecil yang kalo dipencet keluar seperti komedo. Tapi, setidaknya tidak mengganggu pemandangan. Jerawat saya makin jinak, euy...

    Seneeeeeng banget, akhirnya ada saatnya juga saya puasa jerawat. Makin seneng lagi kalau habis mencuci muka. Kulit wajah terasa halus. Diraba-raba juga nggak kelihatan ada jerawatnya. Yang terasa tinggal benjolan bekas jerawat yang isinya komedo. Iya, kalau tumbuh jerawat, biasanya sekitar 5 hari jerawatnya mengecil tinggal menyisakan benjolan segede komedo. Kalo digosok agak niat jadi hilang mata jerawatnya.

    Itu juga butuh waktu 1 bulan untuk benar-benar bisa bernafas lega. Pipi kanan kiri saya masih ada bekas jerawat banyak. Menurutku, bekasnya cuma sedikit berkurang, tapi saya sendiri kurang bisa memperhatikan. Kata adek dan temanku, wajah saya semakin bersih dan bekas jerawat memudar. Ibu-ibu kenalan saya di RS juga bilang begitu. Alhamdulillah.. Berarti saya cocok dengan obat ini.

    Tadi pagi saya balik lagi ke dr. Rikyanto. Pengennya sih minta obat untuk memudarkan bekas jerawat. Tapi ternyata, krim saya itu sudah termasuk penghilang bekas jerawat juga. Bulan kemarin saya tidak bertemu dr. Rikyanto, jadi baru hari ini saya bertemu muka dengannya. Beliau ini ramah dan suka guyon ternyata. Masak iya, saya konsultasi jerawat kok malah dinasehati soal telaten memilih jodoh. Korelasinya apa dok, jerawat sama jodoh? Ada-ada saja deh, hihihi...

    Update 28 Juli 2015
    Setelah sekitar 9 bulan menggunakan krim dari dokter Riki, saya pengen ngasih review terupdate. Saya emang agak-agak nggak bisa memperhatikan perubahan wajah sendiri, tapi teman-teman saya bisa. Beberapa teman yang tahu kisah saya dari yang jerawatan parah sampai jerawat dikit-dikit sering bilang "Krim e mbak Endang cocok ya. Raine wis resik". Padahal kadang masih muncul jerawat lho barang 1-2. Kalo bekasnya sih saya pasrah. Menurut mereka, wajah saya lebih bersihan dan putih (saya sebut cerah aja kali ya). Sewaktu saya compare foto terbaru dengan foto lama, baru saya percaya. Sekilas lihat, pasti orang-orang pikir saya pake krim gajebo karena kulit wajah saya beberapa tingkat lebih cerah dari kulit punggung tangan. Padahal sih enggak ya. Kulit wajah saya sewarna kok dengan kulit leher dan badan yang tertutup baju. Hanya saja, karena saya sering naik motor panas-panas tanpa sempat pakai sarung tangan, jadi kulit tangan saya menggelap. Kalo lengan baju disingkap, semacam ada garis batas antara kulit yang sering terpapar matahari dan tidak.

    Saya juga mo cerita kalo akhir bulan ini semua krim dan facial wash saya sudah habis. Sebelum benar-benar habis, saya sudah mengurangi frekuensi pemakaian krim malam. Jerawat sudah nggak bandel, kulit wajah juga sudah cerah kembali, saya tinggal maintain aja. Karena itu, saya memutuskan untuk nggak belum akan repurchase krim ini lagi. Untuk sementara, sunblocknya balik lagi ke Ristra dan Wardah (mumpung masih ada sisa), facial wash pake Himalaya Gentle Exfoliating Daily FW (minta adek, untung cocok-cocok aja), krim malam selang seling dengan Ristra Total Whitening Concept - Gizi Super Cream, toner dokter masih ada sisa 1/3 botol jadi tetep dipake. Selain itu, saya juga maskeran  biar wajah tetep kece. Maskernya juga sesuka hati, kadang pake jeruk nipis, tomat, Himalaya Purifying Neem Mask, Mustika Ratu Indah Warni ato Bengkoang. Banyak juga ya perlengkapan tempurnya, fiuuuh..

    Begitulah perjuangan saya melawan jerawat dan masalah wajah kusam. Bagaimana dengan kalian?

    Senin, 27 Oktober 2014

    Paranoid


    Deg-deg an tiap kali ada nomor asing yang masuk di hape saya. Entah itu sms atau whatsapp. Seperti saat tadi ada sapaan pendek di whatsapp, saya kok otomatis menggerutu, astaghfirullah. Nomornya tidak terdaftar di hape, sedang foto profilnya sama sekali bukan berbentuk manusia. Benar-benar tidak ada petunjuk siapa pemilik whatsapp tersebut. Sabtu kemarin juga sama. Muncul sms yang nomornya nggak dikenal, isinya nggak perlu dibahas, dan pengirimnya sebut saja Paijo (kalo ada fotonya dah diburemin wajahnya ini). Sabar...

    Pesan nggak jelas isi dan pengirimnya begini jarang sekali saya balas. Pun ketika orang tersebut sudah menyebutkan sedikit clue, saya masih lho agak ragu-ragu membalas pesannya. Kalau itu pesan penting, saya membalasnya dengan bahasa agak formal dan tanpa basa basi. Lain lagi jika itu wujudnya telpon, saya memilih tidak mengangkat panggilan pertama. Asumsi saya, orang yang membutuhkan saya pasti akan menelpon lagi, jadi tak apalah melewatkan panggilan pertama.

    Mungkin orang pikir saya ini sombong tidak mau membalas pesan atau mengangkat telpon. Bukan maksud saya begitu lho, maaf banget.. Saya cuma malas harus menebak-nebak pemilik nomor bodong yang isi pesannya kurang penting. Saya bisa tahan untuk tidak menggubris pesan tak beridentitas tersebut, tapi saya tetap merasa kurang nyaman. Kalau saja saya dekat dengan pak menkominfo, sudah saya minta beliau untuk melacak nomor-nomor asing tersebut sehingga saya bisa tahu siapa pemilik nomor tersebut.

    Sayangnya ya saya nggak kenal pak Rudiantara dan nggak punya ide juga untuk mencari tahu siapa pemilik nomor tersebut. Yang saya lakukan hanyalah menyimpan nomor tersebut dengan sebutan tertentu. Tujuannya agar saya tidak salah mengangkat telpon kalau diantara nomer tersebut ada yang menghubungi saya lagi. Atau kalo ternyata diantaranya bukanlah nomer iseng, saya kan jadi lega gitu..

    Ini masih ada lagi nomor GAk JElas dibawahnya, hehe

    Alhamdulillah, selama ini sinyal feeling saya masih bagus. Telpon dari nomor asing yang saya angkat biasanya dari saudara atau teman yang memang saya kenal. Sedang telpon iseng, seringnya terlewatkan. Ujungnya ketahuan juga kok kalau itu nomor iseng. Yah, mana ada telpon bukan iseng kok cuma miskol-miskol.

    Ini namanya terlalu parnoid nggak sih?!
    Iya, saya ini memang parno. Ya wong minimal sebulan sekali masih ada saja pesan iseng yang masuk. Saya bukan artis lho (sok ngartis juga enggak), bukan juga anak pejabat, abg alay juga bukaaaan... Tapi kok ya masih juga diisengi. Please, cari korban yang lain saja gih! Hush hush..




    PS: Buat teman-teman yang menghubungi saya tapi tidak saya balas, mohon maaf... coba saya dihubungi lagi, tapi jangan lupa sebutkan identitasnya ya. Terimikisih...
     
    Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon