Tampilkan postingan dengan label Tarawih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarawih. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juli 2014

Problem: Dilema Shaf dan Kiblat

Ramadhan tahun ini..
Malam kemarin, saya dan adikku ingin merasakan suasana ramadhan yang lain daripada yang lain. Kami berdua ingin merasakan sholat tarawih di masjid di luar kampung. Bahasa gaulnya, Safari Tarawih. Kami biasa menjalankan sholat tarawih 11 rokaat (di masjid dalam atau luar kampung), tapi tidak ada salahnya kan kalau kami ingin juga sholat tarawih 23 rokaat.
Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS: Ar-Ruum: 31 – 32) 

Foto temen-temen saat di Garut

Masjid yang kami pilih tahun ini adalah masjid di kampung tetangga. Letaknya dipinggir jalan raya, sehingga bisingnya tak terkira. Tapi, kebisingan itu nggak terlalu jadi masalah. Jumlah rokaat dan adat sholat yang berbeda dengan kampungku pun tak jadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kami dihadapkan dengan jamaah yang shaf nya tidak sesuai petunjuk masjid. Saat itu, kami sholat bukan di masjid utama, melainkan di serambi yang letaknya di sebelah kiri masjid utama. Jadi ada lorong antara masjid utama dan serambi. Di serambi ini kebanyakan diisi oleh jamaah yang sudah sepuh dan anak-anak. Shaf depan terdiri dari 3 orang, kemudian jamaah lain berbanjar ke belakang mengikuti arah tikar. Disini, terdapat garis shaf yang arahnya serong ke utara. Saya dan adik datang belakangan dan bagian kami tanpa tikar, sehingga terlihat jelas garis shaf yang menghadap kiblat. Namun, entah kenapa, jamaah di serambi ini sholatnya tidak serong mengikuti garis shaf, melainkan lurus mengikuti arah bangunan.

Selama ini kami sering menjumpai shaf kosong di bagian depan, atau belakang, atau shaf yang dimulai dari kanan dan kiri. Sedang kasus seperti ini kami belum pernah menjumpai sama sekali. Kecuali saat melihat film “Sang Pencerah” dimana diantara jamaah Masjid Kauman, hanya Kyai Ahmad Dahlan saja yang sholatnya serong menghadap kiblat yang diyakininya. Kami jadi bingung sendiri. Padahal sholat sudah dimulai dan tidak cukup waktu untuk menimbang-nimbang apakah kami harus menggelar sajadah sesuai shaf jamaah yang kurang benar atau sesuai kiblat masjid. Maka dengan pengetahuan dangkal, dan dengan pertimbangan kami berada di bagian paling belakang dan pinggir kiri sehingga tidak mengganggu jamaah di samping kiri kami, kami sholat mengikuti petunjuk kiblat Masjid tersebut. Arah sholat kami serong dan jadi berbeda dengan jamaah di sebelah kanan kami. 

Sebenarnya nggak enak juga dengan masyarakat, takut jadi masalah, apalagi kami ini pendatang yang numpang sholat. Walaupun untungnya, jamaah disebelah kami ya tidak komplain.  Tetap, hati kami bergejolak (taelah) karena kami tidak lurus dengan shaf jamaah, padahal lurusnya shaf menjadi kesempurnaan sholat. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

"Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kelurusan shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat.” [HR Muslim (433)] 

Kemudian, sepulangnya dari masjid, kami mengadu pada bapak. Beliau berkata bahwa syarat sah shalat yang harus dilakukan sebelum melaksanakannya di antaranya adalah menghadap kiblat Dari sumber iniJika suatu jamaah merasa kesulitan mengubah posisi kiblat, karena masjid agak terlalu jauh untuk dimiringkan dan sangat sulit, atau bahkan akan membuat kondisi masjid malah menjadi sempit, maka selama itu masih antara arah utara dan selatan, posisi kiblat tersebut dianggap sah. Akan tetapi, jika mungkin kita mampu mengubah arah kiblat seperti pada masjid yang baru dibangun atau untuk tempat shalat kita di rumah, selama itu tidak ada kesulitan, maka lebih utama kita merubahnya.

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144)

Tadi, seorang guru agama di sekolah pun mengatakan hal yang sama dengan bapak. Permasalahannya, di masjid sudah ada garis shaf yang sesuai kiblat, namun jamaah tidak membuat shaf sesuai arah kiblat. Dengan begitu, maka tidak salah kalau kami sholat mengikuti petunjuk kiblat. Alasannya karena adanya petunjuk kiblat berarti sudah ada kesepakatan antara Takmir dan Jamaah Masjid tentang arah kiblat yang mendekati benar. Adapun jamaah yang tidak mengikuti petunjuk shaf, itu menjadi tanggungjawab Takmir Masjid untuk menyampaikan kesepakatannya.

Jawaban bapak dan teman guru saya tidak serta merta memuaskan rasa penasaranku. Semalam saya juga bertanya pada seorang teman yang lain. Darinya saya diberi pengertian bahwa meluruskan shaf itu lebih utama. Sehingga, meski tidak sesuai dengan petunjuk kiblat masjid, maka lebih baik sholat dengan meluruskan shaf agar tidak menggangu kekhusyukan dan menghindari perselisihan dengan jamaah lain.

Dalam suatu bahasan di sini disebutkan bahwa ketika berada di suatu tempat yang tidak memungkinkan mereka untuk mengetahui arah qiblat, seperti mereka dalam perjalanan sedang cuaca penuh dengan awan dan mereka tidak dapat mengetahui qiblat, maka jika mereka shalat dengan berhati-hati (berusaha agar mereka menghadap arah yang tepat) kemudian (setelah selesai shalat) ternyata mereka tidak tepat pada arah qiblat, maka tidak ada kewajiban apapun bagi mereka, karena mereka telah bertaqwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan mereka.

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatnya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah : 115)


“Apabila rasa takut lebih dari ini, maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan dengan menghadap kiblat atau pun tidak.” (Ibnu Umar)

Namun, ketika mereka berada di tempat yang memungkinkan mereka untuk bertanya tentang arah qiblat yang tepat akan tetapi mereka lalai dan meremehkan (tidak bertanya), maka dalam keadaan seperti ini mereka wajib mengqadha shalat yang mereka laksanakan dengan tidak menghadap qiblat. Baik mereka mengetahui kesalahan tersebut setelah habisnya waktu shalat itu atau sebelum habisnya waktu sholat. Hal ini dikarenakan mereka salah dan sengaja salah tidak menghadap qiblat serta meremehkan dengan tidak bertanya tentang qiblah tersebut. Meski begitu, perlu diketahui bahwa miring sedikit dari arah qiblah adalah tidak membahayakan
Antara timur dan barat adalah qiblah. (HR.Tirmidzi)

Berdasarkan bahasan tersebut di atas, saya mendapati dua opini yang berbeda yang berkaitan dengan kegusaran saya. Dua opini tersebut punya dasar masing-masing, sedangkan pengetahuan saya terlalu dangkal untuk memilih opini mana yang akan saya ikuti. Lain kali, saya akan memilih sholat selain di masjid itu daripada kebingungan soal shaf dan kiblat ini muncul kembali. Ke depannya, saya masih akan mencari opini lain dari orang yang lebih ahli daripada saya. Dan untuk sementara waktu, jika menemukan kasus yang sama, saya berpedoman bahwa menghadap kiblat lebih utama daripada meluruskan shaf. Dengan catatan saya tetap mengikuti arah kiblat yang disepakati takmir masjid setempat. Wallahualam..

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak  menghendaki kesukaran bagimu”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Refrensi:

PS: saya akan sangat sangat berterimakasih kalau ada yang dengan suka rela berbagi pendapat tentang masalah yang saya temui ini.

Jumat, 26 Juli 2013

Safari Tarawih

Ramadhan tahun ini harus beda dari ramadhan tahun kemarin. Ini salah satu motivasiku agar makin rajin beribadah. Entah kenapa ya, makin tua kok greget ramadhan jadi berkurang. H-1 ramadhan ini saja rasanya so flat. Aku rasa ada yang salah denganku waiting

Sebenernya greget ramadhan itu ada dimananya sih?
Kalau menurutku sih ada di sholat tarawihnya. Hari-hari  biasa, waktu sholat isyak kebanyakan masjid cuma di datangi beberapa jamaah. Namun, saat bulan ramadhan, hampir semua umat islam (yang mau dapat barokahnya ramadhan) berdatangan memakmurkan masjid di sekitarnya. Nggak mau kalah sama muslimin dan muslimat yang rajin sholat tarawih di masjid, aku pun sholat tarawaih di mushola dekat rumah. Ada masjid di daerah belakang rumah, tapi jalan kesana gelappp. Jadi aku putuskan ke Mushola yang di daerah depan rumah yang agak lebih terang jalannya.

E tapi, penasaran juga suasana tarawih di masjid lain seperti apa. Makanya aku pun mulai bersafari tarawih. Sejauh ini sudah beberapa masjid dan mushola yang aku datangi. Opiniku seperti ini:

1. Musholla Ar Ramli (Blawong I)
Karena warganya semua warga Muhammadiyah, maka sholat tarawih disini terdiri dari 11 Rokaat. Tipe sholat nya --> 4 rokaat - 4 rokaat - 3 rokaat.

Review
# Waktu dzikir seusai sholat isyak cukup
# Sholat ba'diyah isyak dan sholat iftitah secara munfarid
# Ada kultum yang bener-bener kultum, kurang tujuh menit.
# Doa sebelum tarawih, seusai witir dan niat puasa dibaca bareng, masing-masing 3x.
# Imam suka baca suratnya pelan-pelan (benernya begini), sayang, pikiranku jadi sering melayang.
# Semua jamaah sholat tarawih secara lengkap.
# Jaraknya deket, 1 menit jalan kaki.
Sejauh ini, mushola tempat favoritku. Jaraknya yang dekat dan doa yang dibaca bersama-sama membuat suasanaa ramadhan makin hidup.

2. Masjid At Taqorrub (Blawong II)
Sholat tarawihnya masih sama dengan mushola Ar Ramli, terdiri dari 11 rokaat (4 - 4 - 3)
Review
# Waktu dzikir cukup banget.
# Ada kultum.
# Sholat Ba'diyah dan iftitah secara munfarid
# Doa sebelum tarawih dan seusai witir dibaca bareng, tapi tidak 3x. 
# Doa niat puasa dibaca sendiri-sendiri.
# Jaraknya deket, 2 menit naik motor.
# Semua jamaah sholat tarawih secara utuh
Ini masjid favorit keduaku. Suasana masjid yang ramai makin mengingatkanku bahwa Ramadhan ini harus beda dari buulan-bulan lainnya.

3. Masjid Al Ikhlas (Grojogan)
Sempat sholat tarawih 2x disini. Kebetulan lewat dan mampir sih. Ternyata, dan kebetulan, sholat tarawih disini 11 rokaat. Bedanya, tipe sholatnya --> 2-2-2-2-2-1
Masjid Al Ikhlas di lihat dari seberang jalan

Review
# Waktu dzikir pendek, harus ngebut dzikir agar bisa sholat sunat.
# Sholat ba'diyah Isyak + Iftitah secara munfarid. Tak banyak yang sholat sunat.
   Kali pertama baru sempat sholat ba'diyah thok, imam sudah memulai sholat tarawih worried
   Kali kedua, ngebut dzikir dan sempet sholat ba'diyah dan iftitah, yeyyy applause
# Tidak ada kultum.
# Gerakan sholat energik, cepet, jadi nggak sempat pikiranku melayang jauh.  
# Doa sebelum tarawih dan seusai witir dituntun oleh imam.
# Doa terakhir di pimpin imam, jamaah tinggal mengamini.
# Jaraknya 10 menit naik motor.
Menurutku, masjid ini lumayan lah. Meski harus ngebut baca dzikir dan ngebut sholat sunat.

4.  Masjid Kanggotan (nama menyusul)
Menyempatkan sholat disini demi merasakan sholat 11 rokaat di daerah tetangga. Tipe sholatnya -- 4 - 4 - 3
Review
# Waktu dzikir cukup, nggak pake ngebut
# Tidak ada kultum
# Sholat iftitah berjamaah
# Doa tarawih dibaca 3x setiap selesai 4 rokaat tarawih dituntun imam
# Doa setelah witir dibaca bareng, tapi doa niat puasa dibaca sendiri
# Jaraknya 5 menit naik motor.
Seru juga sholat tarawih disini. Suasananya masih seperti di Blawong. Petugas parkirnya juga rapi jali dan helpful banget walaupun tidak dibayar.

5.  Masjid Sokopuro (Blawong I)
Masjid ini masih sama dengan masjid di daerah Blawong lainnya. Sholat tarawih terdiri dari 11 rokaat (4-4-3)
Review
# Waktu dzikir cukup
# Sholat ba'diyah + iftitah secara munfarid
# Tidak ada kultum
# Tidak membaca doa setelah tarawih + witir bersama-sama
# Jaraknya 1 menit jalan kaki.
Meskipun banyak yang suka sholat tarawih disini (terkenal karena waktu sholat relatif cepat), tapi aku kurang suka sholat disini. Sering rancu dan tidak cukup waktu berlama-lama membaca doa setelah tarawih karena bacaan doa yang tidak dilafalkan bersama-sama. Jamaahnya pun terkesan tidak serius. Beberapa ibu-ibu memilih sholat di shof paling belakang agar tidak ketahuan kalau mereka tidak sholat tarawih secara lengkap. Bahkan, pengaturan shofnya kacau. Shof yang paling tengah masih kosong, tapi jamaah membuat shof lagi di belakangnya. Kadang-kadang, shof dimulai dari samping kanan dan kiri. Aku jadi bingung mau gabung dengan shof disebelah kiri atau kanan. Ribet pokoknya.

Safari tarawihnya cuma sedikit ya. Maklum, agak nggak wangun anak cewek keluar malam jauh dari rumah. Tapi, masih penasaran juga suasana tarawih di tempat lain seperti apa.
Lain kali ke masjid mana lagi ya?! thinking

*Pe-eR, harus upload foto masjid lagi nih.. 
 
Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon