Senin kemarin, Yusuf mengajakku ke Panti Yayasan Sayap Ibu. Sebenarnya, dia mau mengantar Naila, kakak tingkatnya, yang berencana praktek di Sayap Ibu. Kami berdua sama-sama tidak tahu dimana letak yayasan ini. Berbekal ancer-ancer dari teman yusuf, meluncurlah kami sampai di Kalasan. Kita berhenti di Pom Bensin sebelum SD Kanisius. Disana lah kami menunggu Naila, si calon dokter Solo yang jarang ke Jogja. Dya sama sekali tidak tahu dimana Yayasan Sayap Ibu. No wonder sih, lah aku yang orang Jogja aja tidak tahu, hihihi
Sampai disana, ternyata Naila tidak menemukan kami. Dan justru dya sudah sampai duluan di panti. How come? Naila baru 1x ini naik motor sendiri ke jogja, dan bisa menemukan panti yang kami saja susah menemukannya. So Amazing....
Jadi, karena panti ini tak memiliki plang selain di depan panti, let me help you summing up. Kalo dari arah jogja - lurus ke timur dan berhenti saat ketemu plang UKRIM II - belok kiri - jalan lurus sampai menemuui selokan mataram - lurus kurang lebih 10 meter - Yayasan Sayap Ibu ada di sebelah kanan.
Dan disini lah kami berada....
Tampak depan |
Sekilas aku kutip dari salah satu blog, cacat ganda merupakan keadaan dimana terjadi kerusakan atau disfungsi perkembangan pendengaran yang bersifat sensorineural yang diikuti oleh kerusakan perkembangan berbahasa atau komunikasi. Gangguan pendengaran pada usia berapapun dapat terjadi, kendati hanya merupakan gangguan pendengaran dengan derajat ringan sekalipun akan dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan pada kemampuan berbicara, penguasaan bahasa serta belajar. Oh, begitu ya..
Saat kami sholat, ada 1 anak perempuan (belakangan aku tahu namanya Yuli, berumur 17 tahun, tapi masih seperti anak-anak) mendatangiku sambil membawa buku. Disuruhnya kami menulis nama kami. Anak ini tidak bisa bicara, tapi berusaha berkomunikasi dengan kami. Yusuf kelihatan bengong bingung, dan aku pura-pura tahu maksud Yuli.
Suasana di ruang makan |
Naila - Kiri dan Yusuf - Kanan, bersama anak-anak panti |
Saat jam makan sore, anak-anak perempuan masuk ke area makan di sebelah utara. Kami nimbrung dengan anak-anak perempuan. Mereka sibuk makan sambil menawari kami makan juga. Beneran lho, Yuli menarik gelas di depannya ke hadapanku. Tidak tahu maksud ucapan dya, tapi sepertinya dya mau bilang "minum mbak, kami juga minum".
Nggak tahu deh aslinya bicara apa. Aku menolak dengan halus dan tetap menemani mereka ngobrol. 1 anak perempuan lain yang bisa bicara menunjukkan jam tangannya padaku. Bagus memang, tapi sayang dia salah memasangnya. Maka aku bilang kalau jamnya salah, sambil melepas dan memasangnya dengan benar.
Nggak tahu deh aslinya bicara apa. Aku menolak dengan halus dan tetap menemani mereka ngobrol. 1 anak perempuan lain yang bisa bicara menunjukkan jam tangannya padaku. Bagus memang, tapi sayang dia salah memasangnya. Maka aku bilang kalau jamnya salah, sambil melepas dan memasangnya dengan benar.
Say cheeese |
Jam 5 tepat, kami pun berpamitan pada anak-anak ini. Kelihatan kalau mereka masih pengen ditemani kami. Wajah mereka cemberut, tapi kami cuma bisa janji "kapan-kapan kami main kesini lagi ya". Yuli sampai membuat tanda love dengan jarinya yang ditujukkan buat kami. Oh, so sweeet..
Kami bertiga pun keluar panti dengan seribu perasaan, mulai dari penasaran sekaligus kagum terhadap anak-anak yang haus akan cinta ini. Yusuf dan Naila saling berjanji kalau suatu saat mereka akan kesini lagi. Dan aku? Aku juga mau kesini lagi, ajak aku ya Suf? Naila?
0 komentar:
Posting Komentar
Your comment, please. Whether it is good or bad... ^_^