Rabu, 30 Januari 2013

Kurikulum 2013 Vs Guru Bahasa Inggris

Baru saja kemarin ngepos foto anak-anak yang lagi asyik belajar Bahasa Inggris. Loh, sekarang sudah dibikin nyengir sama Ibu – ibu guru yang lagi membahas kurikulum 2013 yang paliiiiiiing baru dan akan segera diimplementasikan. Mereka tak kalah nyengirnya denganku dong. Kemudaian, tau-tau bu Anif bilang “Aku mesakke mbak Endang sesuk piye, ning ngomah kepikiran terus”. Walah, aku jadi kaget plus terharu. Nasibku sampai dipikirkan orang lain juga, mereka peduli banget sama aku, hiks hiks.. 

Jangan sampai kebersamaan ini berakhir. Lebay nya..

Eh, pada bingung ya aku ngomong apa? 
Boleh flashback dulu ya, biar nggak ngegantung gini. 

Jadi, sekilas penjelasan dari bu retno tadi, mulai tahun ini dan selanjutnya, pelajaran di SD sampai SMA akan berbentuk tematik. Semua mata pelajaran akan terintegrasi. Bisa jadi dalam 1 jam pelajaran, tanpa terasa anak sudah mempelajari Matematika, Bahasa Indonesia sekaligus IPA. Eh, IPA sama IPS bakal dihapus diganti istilah apa gitu. Nggak ngerti aku.. yah, kira-kira begitulah tematik yang aku tahu. 

Kurikulum terbaru ini berdampak pada menurunnya jumlah mata pelajaran dan meningkatnya jam pelajaran tertentu dalam 1 minggu. Bahasa Indonesia akan dipelajari 10 jam/minggu. Sedangkan Bahasa Inggris akan digeser dan dipelajari diluar jam mengajar wajib, singkatnya sebutlah ekskul. 

Jadi ingat.. 
Beberapa bulan yang lalu, sewaktu ngobrol dengan pak kepsek, beliau juga menyampaikan wacana bahasa Inggris SD akan dihapus, yang sebenarnya aku sudah tahu lama. Beliau dan pak Karti, kepsek SD Sumberragung 1 yang dekat denganku (eits, don’t be suudzon. He is my uncle’s friend. I consider him as my uncle) khawatir akan nasibku. 

Akhir-akhir ini juga rekan sesama guru bahasa Inggris dari SD Sumberragung 2 yang sudah PNS sering sms dan curhat kegalauannya. Ada wacana (dan kayaknya bakal terwujud) kalau bahasa Inggris di SD akan dihapus. Boleh ada, tapi dalam bentuk extrakurikuler. Nah masalahnya, guru PNS dan guru bersertifikasi harus punya jam mengajar sebanyak 24 jam dan bukan extra (correct me if i’m wrong ya). Temenku ini bingung mau gimana lagi. Kalau alih jenjang, pindah ngajar di SMP atau SMA, beliau merasa tidak mampu. Sementara kalau mau menjadi guru kelas, berarti akan menggeser guru kelas non PNS yang ada di sekolahnya. Yah, bingung lah beliau. Sementara aku (untungnya belum PNS jadi tidak terlalu mikirin) tidak bisa banyak kasih masukan. 

Tadi ada “rasan-rasan” (bisik-bisik kali ya), guru yang sudah sertifikasi harus diutamakan. Maksudnya, aku bisa dialihkan jadi guru kelas, dengan konsekuensi harus mengeser guru kelas yang baru. Big No No lah kalau harus mengorbankan teman lain. Sudah jelas-jelas punya pekerjaan sebagai guru kelas, masak iya aku musti nge-cut pekerjaan dia. 

Memang, sewaktu ibu pengawas ngobrol-ngobrol denganku beberapa waktu lalu, beliau melarangku pindah sekolah selama belum ada kejelasan. Guru bersertifikasi itu tanggungan negara, jadi harusnya negara yang akan mengatur bagaimana nasib “guru” ini. Beliau juga memberikan pandangan kalau guru bahasa Inggris mungkin akan alih jenjang menjadi guru kelas. Itu artinya aku akan diwajibkan bergelar S1 PGSD. That's really not my passion. Saya minatnya di bidang bahasa Inggris, kenapa harus terpaksa berpindah minat hanya demi "uang".

Sebenarnya aku nggak begitu mempermasalahkan nasib “guru” ku ini. Toh, nasib dan rezeki ku sudah ada yang mengatur. Misal, misal ya.. Bahasa Inggris benar-benar harus dihilangkan, selama aku masih boleh kerja di SD aku sudah cukup senang. Tidak masalah kalau tunjangan sertifikasiku di hapus. Tidak masalah juga kalau insentif kabupatenku hilang asal aku masih boleh bekerja disini, dan aku dapat gaji atas kerjaku ini. Kalaupun penghasilanku (boleh pake istilah ini kan ya? ) menurun drastis, yang penting aku bisa mencukupi kebutuhanku tanpa minta pada orang tua. Nggak bisa mengajar di SD pun aku masih bisa mengajar via private course. Itu namanya juga pekerjaan kan ya. Kalo ada yang nawarin jadi sopir taxi pun tak jalani deh.

Mungkin, dengan adanya kebijakan baru ini aku malah bisa mencari pekerjaan yang lain. Kemarin-kemarin mau coba-coba mendaftar CPNS di luar kota tidak berani karena punya tanggungan ngajar di SD. Sekarang, justru ini kesempatanku. Kalau punya pekerjaan di luar SD, bakal mengurangi kekhawatiran guru-guru soal nasibku kali ya. 

Bekerja bagiku bukan melulu urusan besar kecilnya gaji. Tapi lebih karena aku bisa membuktikan kalau aku ini mandiri. Lagi pula aku ini perempuan. Bukan kewajibanku menfkahi keluarga (ku kelak, hehe), tapi boleh bekerja selama tidak mengganggu kodratku sebagai perempuan. So, ngapain bingung mikirin bahasa Inggris SD dihapus ato tidak, ngapain bingung jabatanku akan jadi guru atau cuma karyawan biasa? Selama aku masih punya pekerjaan dan selama aku punya penghasilan, why should I be sad

20 komentar:

  1. Sama dgn nasibku mbak... cuma bedanya aku belum dapat tunjangan dari kabupaten, apa lg sertifikasi. Cuma dapatgaji dari dana BOS sekolah. itupun jumlahnya alhamdulillah-minim- hehehe :) oya, kalo boleh tahu, mmbak mengajar di sd swasta apa negri ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. guru bahasa inggris juga ya? *duh senengnya punya temen seperjuangan :D

      aku ngajar di SD swasta. gajiku minimnya sama. cukup gak cukup sih dapet gaji minim, kalah sama pengamen di pasar, hikssss.. tapi, tetep semangat ngajar ya ;)

      belum dapat tunjangan gak papa, aku dulu sempet ngalamin. dan alhamdulillah, kesabaran berbuah manis. kebijakan sekarang aneh sih, gak semua gtt rata dapat tunjangan kabupaten. moga2 tahu 2014 kebijakan buat GTT lebih mendukung kita. amin

      Hapus
  2. sama dengn nasibku mbak..cuma bedanya aku blm dapat tunjangan dari kab, atopun sertifikasi. huhuhu...so saaaaaddd

    BalasHapus
  3. bukan masalah kita sebagai guru bahasa inggris tetapi anak anak indonesia akan ketinggalan dengan anak anak malaysia, singapore dan negara asia lainya. mereka sudah mengajarkan bahasa inggris sejak dini manfaat buah dan sayur!

    BalasHapus
  4. @Ahmad Fauzi:
    ah iya, aku lupa kalo bukan cuma nasib guru yang harus dipikirkan, nasib muridnya juga.
    banyak sih wali murid yang menyayangkan bahasa inggris yang mau dihapus. dan alhamdulillah beberapa sekolah akan mempertahankan bahasa inggris walau bentuknya extrakurikuler.

    BalasHapus
  5. hebat bgt ibu-ibu ini. Smg Alloh selalu memberi berkah. Saya juga guru bahasa inggris

    BalasHapus
  6. Makasih Indah.. The same wish goes to you. Tetep semangat..

    BalasHapus
  7. Sama, sy jg ngajar b.inggris di MI sudah sertifikasi..

    Anak2 jg kasian, pdhl mereka sy lihat cukup semangat belajar b.inggris..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, bener banget Intan..
      Semangat mereka yang bikin kita merasa berharga :D

      Tahun ini sertif udah gak turun kan? No worries, gak ada sertif tetep gak bikin kita mati gaya ;)

      Hapus
  8. I Like This Blog
    Thanks mbk,,salam kenal,postinganya keren banget
    Liat anak2 semangat belajar English,,,,dah sesuatu banget
    Don't worry be happy,,,English is our passion ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks ya..
      Moga2 kita tetep nggak bosan ngajar bahasa Inggris ;)

      Hapus
  9. Kalo guru bahasa inggris SD, apakah jga ada PKG..penilaian kinerja guru? mengingat skarang hanya jdi ekskul..

    BalasHapus
  10. PKG yang ada kaitannya dengan Padamu Negeri?
    Iya, guru bahasa inggris tetap dinilai karena kalau tidak, kepala sekolah tidak bisa mengaktifkan NUPTK nya. Prakteknya, terserah kepala sekolah mau bagaimana menilainya. Sekedar formalitas atau benar-benar pake supervisi..

    BalasHapus
  11. Saya tertarik ambil judul skripsi tentang status pelajaran bahasa inggris di SD di kurikulum 2013, tapi mngingat adaa wacana kurikulum 2013 akan dikembalikan ke ktsp lagi sy jd bingung.. ada yang bisa bantu sy ,untuk memeberi sy ide judul skripsi yang bisa sy ambil yang msih berkaitan dengan pelajaran bahasa inggris SD? syukron,,:),

    BalasHapus
  12. @Kurnia Fitriatun, berdasarkan informasi yang saya dapat dari Dinas Bantul kemarin senin, Kurikulum 2013 tidak akan diganti, dan tidak juga dikembalikan ke KTSP (setidaknya sampe tahun ajaran ini berakhir). Melainkan hanya dievaluasi saja.. Yup, cuma dievaluasi. Nggak jadi seneng sayah..

    Jadi tidak ada salahnya melanjutkan ide skripsimu. Coba dikonsultasikan dulu ke dosen pembimbing. Biasanya dosen (yang baik) punya solusi untuk ngembangin judul skripsi kita yang dirasa kurang pas. Setidaknya dosen saya dulu begitu :)

    BalasHapus
  13. thank for your suggestion :), kalau boleh tau di Bantul domisili dimana?

    BalasHapus
  14. @Kurnia Fitriatun, yup, never mind.. saya tinggal di Jl. Imogiri timur km 11

    BalasHapus
  15. Tapi jauuuuuh, hehe..
    Kalo di Jogja ada juga yang namanya serupa tapi tak sama, Pare Van Jogja.

    BalasHapus
  16. Gak ngerti dgn jalan fikiran para petinggi negeri ini, bahasa inggris dihapus sudah pasti anak" kita akan kalah bersaing dgn negara" tetangga... Coba pak Soekarno msh hidup ya...pasti gak gini wacana nya...

    BalasHapus
  17. Galauuuuu.....akuu....mnjd guru b.ing..sdh suami gk kerja n msh honor mnjd guru b.inggdi sd...mnyenangkn tp kasian anak2q ....mau jajan gk bisa....

    BalasHapus

Your comment, please. Whether it is good or bad... ^_^

 
Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon