Kamis, 16 Oktober 2014

We've been in Surabaya

Surabaya.. here I come.. party
(Eh, nggak ding, wong sudah berlalu, harusnya pake past tense. Aih… sok grammar police

Kota Surabaya kota yang totally strange bagi saya. Asli saya belum pernah kesana. Nggak tahu moda transportasi dari stasiun menuju lokasi tujuan. Dan muka saya langsung kecut saat saya tahu bahwa saya harus mengadu nasib ke Surabaya. Kali pertama ke Surabaya, saya sendirian naik travel sampe lokasi. Jadi semua saya serahkan pada sopir travel. Saya mah tinggal tidur tahu-tahu sampe tujuan. Pulangnya saja yang kudu tanya angkot menuju stasiun Gubeng ke bapak-bapak yang nongkrong di sekitar lokasi. 

Sebelum berangkat saya sudah membekali diri saya dengan banyak hal tentang Surabaya. Dimulai dari booking kereta PP Jogja-Surabaya dari jauh-jauh hari. Penting ini, soalnya kalo mendekati hari H kereta biasanya fullbooked. Tinggal kereta mahal yang tersisa. Selanjutnya saya googling peta Surabaya yang di printscreen, daftar penginapan murah dan navigasi dari penginapan-penginapan menuju lokasi aduan nasib, halah.. Semunya saya simpan di HP. Bahkan saya menghafalkan nama jalan di sekitar lokasi biar nggak sewot saat GPS nggak jalan atau hape tiba-tiba lola. 

Lanjutkan ya.. 

At the train
Kali kedua, berbekal informasi yang tersimpan di HP dan tentunya ijin orang tua, Senin sore kemarin  saya dan Ria (teman SMPku) jalan-jalan ke Surabaya. Kami berangkat dengan kereta pukul 16.50 dan sekitar pukul 23.30 malam kami sampai di stasiun Gubeng. Hotel pertama yang saya cari adalah Hotel Gubeng yang ada di depan Hotel Sahid. Hotelnya murah meriah, apalagi dilihat dari bentuknya yang jadul. Sayang, kamar disini penuh. Pengen sih pindah ke Hotel Sahid di depannya, tapi dompet saya nggak kuat, pake bingitz lagi. Jadi saya mengalihkan tujuan ke Family Guest House di Jl. Gubeng Kertajaya VIIIC. Tentunya saya sudah telpon dulu untuk memastikan ada tidaknya kamar. 

Guest house ini ada di dalam komplek perumahan. Jadi agak susah dicari. Memang harus mengandalkan GPS kalau baru pertama ke penginapan ini. Naik taksi ke Guest House ini tidak lama, hanya sekitar 10 menit saja, dan argonya sekitar 20 - 25 ribu. Tarif kamar disini 300ribu/malam  (lumayan nggak murah, hiks) untuk twin maupun double bed dengan fasilitas AC, wifi, kamar mandi dalam dan breakfast. Hotelnya sih lumayan, kecuali TV yang cuma ada 1 chanel dangdut doang, ya ampon thumbs down

Hari Selasa, setelah urusan saya selesai, pukul 12.45 siang kami checkout. Jadwal checkout memang sampai jam 12 siang saja, tapi ada toleransi sampai jam 1 siang. Selebihnya akan dikenai charge 50%. Selanjutnya, kami menuju ke Delta Mall sambil menunggu jadwal kereta kami jam 7 malam. Yeah, I know pasti pada mencibir, jauh-jauh ke luar kota kok masuknya Mall lagi big grin

Perjalanan dari Guest House ke Delta Mall juga tidak lama, cuma 10-15 menit. Lokasi Mall nggak jauh dari stasiun Gubeng. Kami bisa jalan kaki sambil mampir ke Museum Kapal Selam. Mo apalagi ke Museum kalo nggak mau narsis coba? Bisa ditebak kan kalo saya tidak terlalu tertarik sama yang namanya Museum, maafkeun.. Tapi ya daripada nunggu lama di stasiun, mending jalan-jalan dulu kan. Bayar 8 ribu (museum dijogja cuma antara 1 ribu - 4 ribu saja) sudah bisa keliling kapal selam dan foto-foto disekitarnya. Suasana di dalam kapal tidak panas karena ada banyak AC terpasang. Sayangnya, saya agak nggak suka dengan ruangan tertutup. Belum bisa disebut claustrophobia, hanya kurang nyaman saja berada di ruangan sempit dan tertutup.

Ini dya bukti kenarsisan kami di Museum ... 
At Museum Kapal Selam
Itu yang pojok kiri hotel Sahid tuh :D
Sekitar pukul 5 sore kami berjalan menuju stasiun Gubeng Lama. Namun, karena kami harusnya naik kereta dari Stasiun Gubeng baru, maka kami memutuskan naik becak dari Gubeng Lama dengan ongkos 10 ribu. Bisa sih bilang ke penjaga tiket untuk masuk ke Gubeng Baru, dan akan diantar pak satpam menerobos lewat tengah rel. Tapi, kami harus bersabar menunggu sekitar 1 jam sebelum keberangkatan kereta baru bisa di antar. Ribet ya aturan baru sekarang...

Sebenarnya Gubeng Lama dan Gubeng Baru itu di lokasi yang sama, tapi beda fungsi. Gubeng Lama untuk kelas ekonomi dan komuter, sedang Gubeng Baru untuk kelas Bisnis dan Eksekutif. Sepertinya penumpang kereta Ekonomi Sri Tanjung bisa juga naik dari sini. 
At Gubeng Baru
Oh iya, selama perjalanan pulang kami ditemani Agnes Monica lho, hihihi..
Too bad, I'm not her fans. I guess that was the reason why I slept quit early that night rolling on the floor
Maap, bukannya iklan ye..

0 komentar:

Posting Komentar

Your comment, please. Whether it is good or bad... ^_^

 
Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon