Minggu, 26 Agustus 2012

Kritik Kritik Kritik

Teman A : kayaknya kamu berubah.
Teman B : ah, masak? Jadi tambah cantik ato tambah manis? Aku merasa fine-fine aja lho, hehe..
Teman A : please deh, jangan sok amnesia. Akhir-akhir ini kamu menjilat ludahmu sendiri tau.
Teman B : apa sih?
Teman A : menurut loh??!
Teman B : suer, Aku nggak ngerti.
Teman A : kamu pikir aja sendiri!!


Huff…

Andai aku sedang ada di kelas bahasa Indonesia, dan sedang disuruh melakukan dialog di atas di depan kelas pula, aku pasti bingung milih peran yang mana. Apakah aku mau jadi Teman A atau jadi Teman B??!

Mungkin aku mau jadi teman A, karena aku tidak suka di-judge negatively. Mungkin mengkritik itu lebih gampang, tinggal mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini terpendam. Tidak perlu memikirkan wajahku akan nampak sedih, menangis ato minta dikasihani. Kayaknya tinggal pasang muka serem dan judes.

Tapi....

Ah, setelah menyiapkan diri untuk mengeluarkan kritikan (yang membangun tentunya dan bukan sekedar kritikan nggak penting), ternyata NGGAK ENAK mengkritik teman sendiri. Bukan teman sejati memang, karena teman sejati selalu saling mengingatkan, saling menjaga agar selalu di jalan yang lurus. Tahu sendiri kan, kadang seseorang sengaja memilih jalan lain, padahal ada jalan yang memang sudah paten sesuai syariat. Tapi kayaknya aku nggak tega merusak persahabatanku deh. Aku nggak siap mendapati si Teman B akan menjauhiku setelah NGGAK TERIMA dengan kritikanku. Teman B mungkin akan berkata "nggak papa kok. Makasih sudah mengingatkan ya."

Tapi kan, dalam hati orang siapa yang tahu???!!

Terus...

Kalau aku jadi Teman B, bisa tiga hari tiga malem nggak tidur buat mikirin perubahan apa yang menurutku
KEMAJUAN tapi menurut orang lain KEMUNDURAN. Bisa saja aku menghibur diri dengan mengatakan “masa bodoh dengan apa kata orang, mereka gak tahu apa-apa tentangku”.
Tapi apa iya Teman A itu termasuk golongan orang yg tidak mengenalku? Kalo dia temanku, maka dia orang terdekat yang selalu tahu apa-apa tentangku. Jika begitu, maka orang yang tidak tahu apa-apa tentangku akan men-judgeku lebih buruk dari temanku sendiri. Aku nggak mauuuuuuu…..

Hmmm, kawan…
Ada baiknya kita me-review tentang apa yang telah kita lakukan selama ini. Setiap tingkah laku kita akan termonitor oleh orang banyak yang mengenal kita. Perilaku kita, baik tindakan maupun perkataan, akan membentuk image kita sendiri di hadapan masyarakat. Kadang kala, tak sadar kita khilaf melakukan tindakan bodoh yang membuat kita jadi bahan gossip panas. Mungkin kita bisa seenaknya “
LUWEH” dengan pandangan orang. Yang penting kita yakin bahwa kita tidak berbuat salah.HELLO??!!!!!
Bersikap cuek sih boleh-boleh saja, tapi pernah kah kita mikirin bagaimana “TEMBE MBURIne”? Tidak kah kita memikirkan siapa saja yang merugi jika kita terlalu cuek dengan image kita yang menurut kita kebagusan ini? Kalo itu cuma merugikan diri kita sendiri, terserah lah ya. Unfortunately, banyak pihak yang namanya tercemar karena ulah kita. Orangtua, keluarga bahkan teman deket yang sering “ubyang-ubyung” akan kena getahnya.

Nah, kawan.. jangan terlalu cuek dengan perilaku kalian deh. Pikirkan dulu image kalian akan terbentuk seperti apa sebelum kita seenaknya berbuat. Satu contoh, saat ada teman lain berbuat hal yang tidak sesuai dengan prinsip kita, tak jarang kita mencelanya. Sering kita berucap “aku nggak akan seperti itu. Ih, amit-amit”. Namun sayangnya, lidah tak bertulang.
BISA JADI kita khilaf dan (moga-moga) TIDAK SENGAJA melakukan hal bodoh yang sejak dulu dicela sendiri. Terus, dimana letak harga diri kita?? Dimana rasa malu kita?? Jangan pikirkan rasa malu di hadapan orang lain, tapi pikirkan dulu betapa malunya kita dihadapan hati nurani kita sendiri. Jangan sampai kita menjilat ludah sendiri. Astaghfirullahal’adzim…

Ayolah, inil saatnya kita mengitrospeksi diri kita. Memang kita pikir tidak banyak yang harus diintrospeksi. Yah… kayak pepatah lama yang berbunyi “Gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di seberang lautan nampak”. Susah banget untuk melihat kekurangan diri sendiri. Ya, karena kita seperti si Kuman bagi orang lain, maka itulah gunanya orang lain yang bisa menilai kita. Mereka bisa menjaga kita agar tetep on the track. Nggak salah kena kritik, jadi terimalah kritik itu dengan lapang dada. Masalahnya, setelah menata hati dan merancang kalimat yang akan diucapkan, ternyata
SULIT banget meng-kritik teman sendiri. Maka dengan ber-INTROSPEKSI, bantulah teman kita untuk mengkritik diri kita sendiri …


PS: Aku butuh dikritik banget 
nail biting

0 komentar:

Posting Komentar

Your comment, please. Whether it is good or bad... ^_^

 
Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon