Sabtu, 14 September 2013

45 Menit di Sayap Ibu

Senin kemarin, Yusuf mengajakku ke Panti Yayasan Sayap Ibu. Sebenarnya, dia mau mengantar Naila, kakak tingkatnya, yang berencana praktek di Sayap Ibu. Kami berdua sama-sama tidak tahu dimana letak yayasan ini. Berbekal ancer-ancer dari teman yusuf, meluncurlah kami sampai di Kalasan. Kita berhenti di Pom Bensin sebelum SD Kanisius. Disana lah kami menunggu Naila, si calon dokter Solo yang jarang ke Jogja. Dya sama sekali tidak tahu dimana Yayasan Sayap Ibu. No wonder sih, lah aku yang orang Jogja aja tidak tahu, hihihi

Sampai disana, ternyata Naila tidak menemukan kami. Dan justru dya sudah sampai duluan di panti. How come? Naila baru 1x ini naik motor sendiri ke jogja, dan bisa menemukan panti yang kami saja susah menemukannya. So Amazing....

Naila kemudian menelpon kami dan memberi arahan, tapi kami nggak mudeng. Bertanyalah kita pada 1 orang, dan dya tidak tahu dimana panti yang dimaksud. Kemudian kami bertanya lagi pada 1 ibu yang ada di pinggir jalan. Sukses kami bingung. Believe it or not, kami bertanya pada 7 orang untuk jarak yang tak terlalu jauh dari lokasi panti. Orang ke 5 yang benar-benar tahu letak panti ini, thanks God.

Jadi, karena panti ini tak memiliki plang selain di depan panti, let me help you summing up. Kalo dari arah jogja - lurus ke timur dan berhenti saat ketemu plang UKRIM II - belok kiri - jalan lurus sampai menemuui selokan mataram - lurus kurang lebih 10 meter - Yayasan Sayap Ibu ada di sebelah kanan.

Dan disini lah kami berada....
Tampak depan
Saat kami sampai, anak-anak panti baru saja pulang dari jalan-jalan sore. Mereka ditemani 2 bule dan beberapa mahasiswa UMS yang praktek disana. Sangat jauh dari bayanganku, yang anak-anak cacat biasanya bikin aku trenyuh. Disini, justru mereka ceria, tak ada waktu buatku mengasihani mereka. Kami kenalan dengan mahasiswa itu dan saat kami bertanya arah menuju Mushola, dya memanggil 1 anak laki-laki yang disuruhnya mengantarku ke mushola. Agak canggung, jujur, karena aku belum pernah menemui anak-anak seperti ini. Maksudku, aku takut salah memperlakukan mereka. Dan ternyata mereka senang diperlakukan seperti anak biasa.

Sekilas aku  kutip dari salah satu blog, cacat ganda merupakan keadaan dimana terjadi kerusakan atau disfungsi perkembangan pendengaran yang bersifat sensorineural yang diikuti oleh kerusakan perkembangan berbahasa atau komunikasi. Gangguan pendengaran pada usia berapapun dapat terjadi, kendati hanya merupakan gangguan pendengaran dengan derajat ringan sekalipun akan dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan pada kemampuan berbicara, penguasaan bahasa serta belajar. Oh, begitu ya..

Saat kami sholat, ada 1 anak perempuan (belakangan aku tahu namanya Yuli, berumur 17 tahun, tapi masih seperti anak-anak) mendatangiku sambil membawa buku. Disuruhnya kami menulis nama kami. Anak ini tidak bisa bicara, tapi  berusaha berkomunikasi dengan kami. Yusuf kelihatan bengong bingung, dan aku pura-pura tahu maksud Yuli.
Suasana di ruang makan

Naila - Kiri dan Yusuf - Kanan, bersama anak-anak panti
Saat jam makan sore, anak-anak perempuan masuk ke area makan di sebelah utara. Kami nimbrung dengan anak-anak perempuan. Mereka sibuk makan sambil menawari kami makan juga. Beneran lho, Yuli menarik gelas di depannya ke hadapanku. Tidak tahu maksud ucapan dya, tapi sepertinya dya mau bilang "minum mbak, kami juga minum".

Nggak tahu deh aslinya bicara apa. Aku menolak dengan halus dan tetap menemani mereka ngobrol. 1 anak perempuan lain yang bisa bicara menunjukkan jam tangannya padaku. Bagus memang, tapi sayang dia salah memasangnya. Maka aku bilang kalau jamnya salah, sambil melepas dan memasangnya dengan benar.

Say cheeese
Jam 5 tepat, kami pun berpamitan pada anak-anak ini. Kelihatan kalau mereka masih pengen ditemani kami. Wajah mereka cemberut, tapi kami cuma bisa janji "kapan-kapan kami main kesini lagi ya". Yuli sampai membuat tanda love dengan jarinya yang ditujukkan buat kami. Oh, so sweeet.. 

Kami bertiga pun keluar panti dengan seribu perasaan, mulai dari penasaran sekaligus kagum terhadap anak-anak yang haus akan cinta ini. Yusuf dan Naila saling berjanji kalau suatu saat mereka akan kesini lagi. Dan aku? Aku juga mau kesini lagi, ajak aku ya Suf? Naila? 

Senin, 02 September 2013

Guru Telad-(t)-an

Menjadi guru teladan itu sangat membanggakan, sayangnya, hanya guru telatan yang bisa kusandang, ih ih ih...... 
Dari semenjak SD, sepertinya saya tidak bisa lepas dari kata "TELAT". Meski sudah siap sebelum jam keberangkatan, selalu ada saja yang saya kerjakan sehingga saya tetap datang ke sekolah terlambat. Tidak terlalu banyak lah, minimal 5-10 menit. Tapi tetap, membuat saya mengecap diri sendiri sebagai gadis "telatan". Banyak negatifnya yang saya rasakan, jelas itu. Dan hanya sedikit sisi positifnya, se ujung kuku mungkin.

Mari saya ambilkan beberapa contoh pengalaman buruk gara-gara terlambat datang ke sekolah (termasuk tempat saya bekerja) dan ke kampus.
1.  SD
Sebenarnya saya sudah lupa-lupa ingat masa SD kala itu. Saat saya kelas 5, kelas saya berada di ujung dengan dua pintu di depan dan di belakang. Agak beruntung karena saat terlambat, saya bisa langsung masuk melalui pintu belakang tanpa perlu di soraki teman-teman.

2. SMP
Satu yang saya ingat, waktu itu ujian semester dan mataku merah karena iritasi. Demi ikut ujian, saya sudah stand by menunggu bus jam 6.30.  Tapi, dikarenakan kepadatan bus dari arah selatan itu tidak bisa diprediksi, maka saya harus rela tidak kebagian bus walau sudah menunggu sampai jam 7 teng. Akhirnya saya meminta Pak dhe untuk mengantarkan saya ke sekolah yang jaraknya 30 menit perjalanan (dengan kecepatan 40km/jam). Sesampainya di kelas, guru penjaga berkata "Nggak papa terlambat, nggak usah menangis". Doeng.... "Ini mata saya sakit, bu" jawabku agak malu Untung guru penjaga tidak bawel meski saya datang terlambat, hehe 

3. SMA
Terlambat? Sering, dan mostly karena saya tidak pintar me-manage waktu. Setiap catur wulan (dulu belum semesteran), pasti ada minimal 1 hari absen. Yup, biasanya saya bangun kesiangan, atau tidak kebagian bus dan tidak ada yang mengantar ke sekolah. Keesokan harinya, saya berangkat dengan membawa Surat Ijin Sakit untuk ketidakhadiran saya hari sebelumnya. Curang bukan? Tapi mau bagaimana lagi, masak iya alasan tidak berangkat sekolah dikarenakan bangun kesiangan? Tak patut ditiru ini 

4. KULIAH
    Kalo mengingat-ingat pengalaman yang ini, malunya masih membekas. Benar-benar malu deh.Saat itu, kuliah perdana saya di kampus ungu. Seharusnya saya berangkat bersama tetangga yang juga kuliah di kampus yang sama denganku. Mungkin dia lupa atau bagaimana, entahlah. Akhirnya saya naik bus menuju kampus dengan emosi tertahan. Sukses terlambat hampir 45 menit. Hanya dengan mengandalkan ingatan tentang nomer ruang kuliah, maka saya memasuki ruang kuliah dengan buru-buru. Ketika sudah settle, saya mengingat-ingat kembali tentang dosen wanita yang seharusnya mengampu. Sedangkan saat itu, dosen pria sedang ceramah di depan kelas. Hampir terpekik saya membatin "O ow.. Sepertinya saya salah masuk kelas". What should I do? Saya sudah tidak punya muka untuk keluar dari kelas. Jadilah selama  65 menit saya terdiam tanpa tahu apa yang sedang diajarkan dosen. Yes, I was a first-year students with low English skill, and the class was for third-year students . I wish I were disapear that day, cling cling..

5. KERJA
Hari Rabu kala itu, saya ada kelas jam 7 tepat. Jadwalnya memang jam 7, tapi apel pagi dimulai jam 6.50 dilanjutkan tadarusan yang harus ditunggui oleh guru yang akan mengajar pada jam pertama. Saat saya datang jam 7.05, halaman sekolah sudah sepi. Jelas, karena saya kalau dihitung-hitung terlambat 15 menit. Maka saya bergegas naik ke kelas tanpa menaruh tas di kantor guru. Di lorong kelas, kepala sekolah terlihat keluar dari kelas yang seharusnya saya ampu. Beliau pun pura-pura (istilahnya begitu) bertanya "Mbak Endang, di kelas 5 kan? Sudah ditunggu anak-anak"
Hahahaha..  Nyengir saya dibuatnya, dan saya buru-buru masuk ke kelas. And guest what? Murid paling kritis di kelas nyelethuk "Piye tho, guru ne we telat". Jreeeeng.. 

Tentang guru yang terlambat, pernah saat kuliah English for Bussiness (seingat saya ini, tapi saya masih bisa mendeskripsikan suasana di kelas saat itu), setiap pagi saya dan teman-teman kelas A (saya pindah kelas saat itu) selalu menunggu datangnya pak dosen di tangga P3B. Kadang-kadang saya harus mengorbankan kelasku di SD demi bisa kuliah. Seringnya pak dosen terlambat, membuat 1 teman perempuan saya agak emosi. Dya mengirim sms ke dosen menanyakan apakah hari itu ada kelas atau tidak. Diakhiri dengan kalimat "What a lecturer." yang menurutku sangat tidak sopan. Berhubung saya tidak terlalu dekat dengan teman-teman kelas A, maka saya tidak mau ikut campur.

Tak berapa lama, sang dosen pun datang. Kami segera masuk kelas dan duduk dengan tenang. Pak dosen juga tak kalah tenangnya saat beliau bercerita tentang 1 mahasiswa di kelas kami yang mengirimkan sms tidak sopan. Dihadapan kami beliau bertanya siapa yang mengiriminya sms seperti itu. Tentu saja kami tahu siapa pelakunya, tapi kami bungkam. Saat pak dosen mengeluarkan HP dan menelpon mahasiswa yang tidak sopan itu, si pelaku yang ada di depanku segera me-non aktifkan HPnya. Mungkin dya pikir pak dosen tidak tahu. Tapi saat itu, di kelas yang kecil itu, hanya dya satu-satunya yang bergerak saat pak dosen menelpon HPnya. Lucky her, pak dosen tidak mempermalukannya di depan kami. Tapi kami tahu pasti, kasus ini beredar di kalangan dosen.

Yah, begitulah suka dukanya menjadi guru yang telatan. Ada yang merasa malu, ada yang merasa tersinggung saat memang disinggung tentang kejadian yang memang nyata. Macam-macam lah.  Yang bisa saya lakukan dari sekarang adalah menghindari untuk datang ke sekolah "terlambat". 

Hari ini saya membuktikan bahwa saya BISA datang 15 menit sebelum waktu upacara bendera, dimana saya menjadi pembina upacara yang wajib hadir. Besok, moga-moga ketidak terlambatan saya masih bisa saya banggakan. Saya tidak setiap hari terlambat, tapi memang saya sering terlambat. Jujur, saya bangga dengan diri sendiri kalau saya bisa datang tepat waktu, yang artinya, saya bisa mengalahkan syetan yang membisikkan kata "terlambat" dalam otak saya 

Selasa, 27 Agustus 2013

Handmade - Kalep Jam tangan

Jam tangankuhhhh..............

Aku menjerit dalam hati, eh salah, beneran menjerit (tapi jeritan tertahan) saat tali jamku copot sebelah. Ini satu-satunya jam tangan yang tahan air, dan satu-satunya jam tangan pemberian. Yak, betul. Ini pemberian dari istri guruku yang abstrak tesisnya aku translate.

Jam tangan ini, kata Indri, kalepnya susah dicari. Kalaupun ada, kalepnya asli dengan harga 75 ribu ke atas. Mahal? Iya lah, biasanya beli kalep nggak lebih dari 25ribu euy. Bener-bener dilema deh. Jam tangannya masih bagus, tapi belum rela beli kalep  mahal, hehe.. *pelit dot com 

Setelah beberapa lama teronggok di kamar, akhirnya suatu hari terlintas di pikiranku untuk membuat handmade watch strap. Kan lagi model tuh, strap yang bisa di gonta ganti sesuai warna baju. Jadi, kenapa nggak aku tiru juga?! Perca kain batik di rumah ada banyak, jadi bisa bikin beberapa motif dan tinggal comot strap yang motifnya sama dengan motif bajuku 

So, here is the story...... (Yeah, I like the word "story")
Material
Bahan yang digunakan:
# 2 Kain keras  (masing-masing berukuran 1,3 x 20 cm)
# 1 Kain batik 4 x 22,5 cm
# 1 Kain keras 0,7 x 4,5 cm untuk sabuk kalep eh, apa ya istilahnya?? )
# 1 Kain batik 1,7 x 6 cm
# 2 Gantungan Metal (atau kepala jam)
# Benang jahit

Alat:
# Jarum jahit
# Setrika

My Handmade Batik Strap
Langkah-langkah:
1.  Ambil kain batik lipat 1 sisi ke dalam untuk tempat menjahit, kemudian setrika.
2.  Letakkan kain keras di tengah kain.
3.  Bungkus kain keras dengan kain batik, dengan sisi lipatan di atas.
4.  Atur dan setrika kain hingga terlihat rapi.
5.  Jahit sisi lipatan kain dengan teknik tusuk jelujur.
6.  Pasang gantungan metal di ujung satunya.
7   Lakukan hal yang sama untuk sabuk kalep.
8.  Jahit ujung-ujungnya hingga terbentuk lingkaran.
9.  Selesai

Sudah nggak sabar pengen "nganyari" jam tanganku, aye....... 

Photoshop dan Penjaga Rental

Suatu hari Selasa yang terik minta ampun, aku dan Indri berkelana mencari kios  percetakan foto.  

What's the story behind? 
Kami   sedang, eh, akan mengurus SKCK dan diharuskan membawa foto 4x6 dengan background merah. Sebenarnya kami sudah dengan pede-nya datang ke Polsek dengan membawa foto ber-background biru, tapi sukses ditolak, hahaha.. 

Untung kami sudah sedia payung sebelum hujan, membawa file foto meski masih backgroudnya biru. Tak perlu berlama-lama, kami segera meluncur ke rental komputer tak jauh dari Polsek. Di kios dengan  papan bertulis B*LA KOMPUTER dan CETAK FOTO DIGITAL kami melangkah masuk. 

Indri      : "Mas, mau cetak foto"
Penjaga : "Oh, iya mbak. Mana filenya?"
Indri      : "Ini. Tapi backgroundnya masih biru, diganti merah ya."
Penjaga : "Aduh, saya gak bisa kalo suruh ganti background"

Gubrakkkkk
Itu gubrak yang pertama ternyata.
Rasanya pengen bilang sama si mas penjaga rental
"Ngapain pasang papan CETAK FOTO kalo ngedit foto aja gak bisa?!"

Untung kami cukup sabar dan sopan untuk menahan emosi, halah.. 
Oh iya, dan untung kami terbiasa bergaul dengan Photoshop dan CorelDraw, hehe

Nah, ternyata cerita masih berlanjut. Saat Indri mulai mengedit foto dan memindahkannya di Corel untuk kemudian di bentuk sesuai ukuran 4x6, si mas penjaga rental berkata
Penjaga : "Kok pake Corel?"
Indri      : "Lha emangnya pake apa?"
Penjaga : "Biasanya aku pake Word mbak"

Gubrakkkk
Ini dya gubrak keduanya.
Aku dan Indri saling pandang-pandangan. Terus gimana cara mengatur ukuran pas fotonya dong? Masak iya fotonya ditarik ke kanan kiri. Bisa tiba-tiba chubby dong pipiku . Ah, manual sekali si mas ini. Kemudian Indri kembali menatap layar PC.  
"Yo sik yo mas, tak lakukan sesuai caraku wae. Aku biasane pake Corel"

Our opinion, at the end, kayaknya si mas penjaga rental bener-bener cuma bisa ngetik dan ngeprint foto pake Word. In other words, dya cuma bisa pake Word (apaseh). Hmmm.... 

Belajar Photoshop dan Corel itu gak sulit lho. Aku bisa men-touch up foto dengan Photoshop dan mem-power clip foto di Corel hanya dengan belajar dari Internet. Coba deh tanya pada mbah gugel, semua pelajaran dari bercocok tanam sampe bergaul dengan PC semuanya ada disana. What more you need? Tinggal ketik dan tadaaaaaa.. Silahkan pilih link yang kamu suka. Dengan catatan, nggak ada kata MALES untuk belajar.

If you have no time to surf, intip nih cara singkat mengganti background foto. Contohnya sengaja bukan pasfotoku 
1.  Buka foto dengan Adobe Photoshop
2.  Double klik file Background di pojok kanan bawah,
     Ketika muncul New Layer, klik OK
 
3.  Pilih Magic Wand di toolbar sebelah kanan atas. Klik di area background.
 
 4.  Pilih Paint Bucket dan warna yang diinginkan. Klik di area background.

5.  Selesai....

Mudah bukan? Ini  baru cara singkat lho, jadi jangan langsung buka kios Cetak Foto kalo cuma bisa mengganti background foto. Masih ada banyak cara untuk mengedit foto atau mengatur foto agar bisa di cetak se-ukuran pas foto.  Yah, pokoknya keep learning ya 

Jumat, 23 Agustus 2013

From Sprei to Gorden


Sudah lama sebenarnya pengen punya gorden untuk menutup jendela di ruang tamu. Bentuk jendela yang panjang dan berjejer membuat ruang tamu seperti aquarium. Niatnya pengen bikin gorden sendiri dengan warna yang sesuai dengan cat tembok. Setelah mengukur bingkai jendela, maka meluncurlah ke toko kain. Eh tapi, setelah sampai di lokasi, sambil memegang hape as kalkulator, kok ya eman-eman punya kain bagus buat dijadikan gorden. Maka saat ada papan bertulis "SPREI 12.000", aku iseng memilah milih sprei yang kira-kira bisa dijadikan gorden .

Atas bantuan SPG, pulanglah aku dengan membawa kain seprei selebar 2 meter sepanjang 4 meter dengan harga 48 rebu saja. Tentunya saat si SPG bertanya "kok banyak amat mbak? Sekalian sarung bantal sama gulingnya ya?", aku hanya senyum-senyum. Tentulah, masak iya aku jawab "bukan, buat gorden mbak". Malu dooooong...

 That was the history, and here's the story.
Membuat gorden cukup simple, apalagi kalau jendelanya memiliki bentuk pasti, semisal persegi atau persegi panjang. Untuk gorden jendela ukuran kira-kira 85 cm x 143 cm, aku cukup memotong kain dengan 100 cm x 150 cm.Tepian kain dilipat seperlunya kemudian ditambahkan tali berperekat (velcro) dibagian atasnya. Setiap 1 piece gorden, diperlukan 5 tali dan 5 pieces velcro
The making of "Gorden"
Begini nih bentuk jendela before dan after dihias dengan gorden. Rel gorden menggunakan sisa rel jaman bahuleak.
The New Look
Setelah gorden terpasang rapi, kain seprei tersisa 50cm x 3,5m (note: setelah dipotong untung tali). Sayang kalau sisa kain dibuang. Tapi, karena motifnya beda sangat dengan motif yang digorden jadi tidak bisa dipakai untuk hiasan gorden. Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya punya rok dari bahan sprei 
Dan jadilah tiga rok pendek berkolor di pinggang dengan ukuran berbeda: 1 dewasa (untukku), 1 ukuran anak SD (untuk Fia), dan 1 ukuran anak TK (untuk Naura). Demi kenyamanan bersama, hanya foto Naura yang layak dipajang, hehehe 
Preman berhati cengeng nih
Maafkan atas ketidaksiapan foto model, baik penampilan maupun expresinya. Tadinya aku dan Naura foto berdua dengan rok yang kembar. Tapi, sepertinya hanya Naura yang lulus sensor, hihihi 

Eits, what did I do?!
Niatnya kan mau memajang from sprei to gorden-ku. Kok malah jadi curcol. 
In conclusion, membuat gorden bisa dengan kain apa saja. Tinggal pinter2nya (oh, jadi aku pinter ya?) si tukang jahit memilih motif kain  saja. Sekian dan see ya..  


Sabtu, 10 Agustus 2013

Jangan Jadi Guru yang Money Oriented

Bekerja di sekolah itu pilihan. 
Pilihan untuk mengabdikan hidupnya demi mencerdaskan anak bangsa. Memilih untuk menguras tenaga dan pikirannya demi kepentingan anak-anak yang bahkan bukan hanya anaknya sendiri. Tidak salah jika banyak yang menggunakan istilah "pahlawan" untuk menyebut guru. Bukan karena guru menjadi penolong di setiap kesulitan, tapi karena guru layaknya pahlawan dalam perang yang berjuang agar masyarakat menjadi lebih cerdas dan beradab guna melawan kebodohan yang menyengsarakan.

Selayaknya pahlawan, guru sewajarnya ikhlas dan tidak mengharap pamrih apapun untuk tugasnya. Namun, pemerintah dan sekolah memiliki cara masing-masing untuk menghargai jasa guru. Bahkan seorang guru private pun diberikan penghargaan oleh orang tua wali berupa gaji. Seperti yang sudah diketahui khalayak umum, gaji seorang guru tidak seberapa dibanding gaji pegawai behind the desk. Bahkan rata-rata gaji seorang guru tidak tetap (non - PNS) cuma 10-50% gaji guru PNS. Dengan gaji yang dibilang pas-pas an ini, seorang guru masih tetap semangat mengajar para anak didiknya.

Sayangnya sebagian guru dan karyawan di sekolah masih menghitung "jasa" yang diberikannya dengan rupiah. Di sekolah negeri, pada umumnya, guru berlomba menghitung berapa jam dya mengajar di luar jam pelajaran, berapa lembar jawab yang telah di koreksi, berapa besar tenaga yang tercurah selama menjadi panitia suatu acara di sekolah. Kemudian, hitungan-hitungan itu dikalkulasikan dan di kurskan dalam bentuk rupiah. Sebagian guru dan karyawan menuntut hak mereka dengan tidak tahu malunya. Tanpa ampun menyindir ato bahkan mencecar bendahara sekolah yang belum mengucurkan uang lelahnya. Yah, seharusnya guru, karyawan dan bendahara sama-sama tahu lah. Ibaratnya keluarga miskin, tak mungkin kan kita meminta uang jajan sementara orang tua sedang pusing memikirkan cara menanak nasi tanpa beras. Tapi sebaliknya, ibarat keluarga kaya, tak mungkin pula orang tua membiarkan anaknya kelaparan sedangkan nasi lauk pauk tersedia di meja makan.

Di sekolah saya misalnya, dana BOS yang diterima benar-benar digunakan untuk menggaji guru/karyawan dan menutup kebutuhan siswa (let's say, fotokopi worksheet yang tiap guru menghabiskan 4 - 6 ribu per kelas per mata pelajaran). Lalu apa kabar dengan uang UKM (uang kebaktian murid) yang tiap bulan rutin dibayarkan siswa? Aah, jangan ditanyakan besarnya karena jumlahnya tak seberapa. Dana itu untuk membiayai kegiatan sekolah lain yang tidak tercover BOS. Murid-murid kami dari golongan menengah ke bawah. Maka ukm yang terkumpul tidak lebih banyak dari 6juta/bulan. Andai saja para guru ditempat kami menghitung waktu lembur, waktu mengkoreksi dan waktu les dengan hitungan pasti sesuai ketetapan pemerintah, maka sekolah kami mungkin akan jatuh miskin. Dari mana sekolah bisa membayar uang lelah itu? Tak mungkin sekolah membebankannya kepada murid-murid. Sedangkan tidak sedkit dari mereka yang menunggak ukm.

Beberapa kasus yang saya dengar, justru sekolah-sekolah berpotensi terjadi perpecahan antar guru. Siapakah biang keladinya? Tak lain tak bukan adalah "uang". Hanya karena uang dan gengsi, maka terciptalah gap antara GTT/PTT dan PNS di sekolah-sekolah tertentu. Ambillah contoh, saat guru GTT/PTT menerima tunjangan yang nilainya cuma 10% dari gaji PNS sebulan, maka akan terjadi perang dingin antara kedua grup tersebut hanya karena para GTT/PTT tidak berbagi dengan guru PNS. Lalu, apakah saat guru PNS menerima gaji ke-13 para GTT/PTT meminta bagian? Oh tidak.. Kami para GTT/PTT sudah terbiasa "nrimo". Benarkah "nrimo"?

Ambillah contoh saat saya bergabung di Grup Operator sekolah. Banyak info yang sangat membantu disana. Tapi suatu saat saya menemukan satu member di Grup itu (membernya either guru ato TU) yang mengupload file persetujuan guru untuk membayar operator. Oke, operator (termasuk saya) dibayar juga boleh karena memang ada juknisnya. Tapi mata saya terbelalak saat membaca isi draft persetujuan tersebut. Tak tanggung-tanggung, GTT wajib membayar 50rb dan PNS sebesar 200-250 ribu kepada operator. Kalo di sekolahku ada 5 PNS dan 17 GTT dan PTT, maka saya akan mendapatkan 1 juta 850 ribu rupiah sekali mengisi data. Gilak!!!

Saat itu, panas ada di ubun-ubun. Maka saya tanggapi statusnya dengan kritikan dan leave the page as soon as possible. Aku nggak habis pikir kenapa ada orang yang money oriented seperti itu. Tunjukkan loyalitas untuk sekolah dan jangan banyak menuntut. Sekolah bisa saja membayar jasanya (since my principal offered it too, but we refused it). Silahkan kalau sekolah atau PTK berkenan membayar jasa si operator. Tapi I never like begging the money for any reason. Mengemis itu bukan sifatku. For me, kalau tidak mau kerja dengan bayaran sedikit, simply leave your school, find another job! Never ever dream of earning much much much money in the school. We (baca: school teachers and staffs) suppose working at school for the sake of students' quality.

Jadi, anda termasuk guru atau staff  yang money oriented ato bukan?

Jumat, 26 Juli 2013

Safari Tarawih

Ramadhan tahun ini harus beda dari ramadhan tahun kemarin. Ini salah satu motivasiku agar makin rajin beribadah. Entah kenapa ya, makin tua kok greget ramadhan jadi berkurang. H-1 ramadhan ini saja rasanya so flat. Aku rasa ada yang salah denganku waiting

Sebenernya greget ramadhan itu ada dimananya sih?
Kalau menurutku sih ada di sholat tarawihnya. Hari-hari  biasa, waktu sholat isyak kebanyakan masjid cuma di datangi beberapa jamaah. Namun, saat bulan ramadhan, hampir semua umat islam (yang mau dapat barokahnya ramadhan) berdatangan memakmurkan masjid di sekitarnya. Nggak mau kalah sama muslimin dan muslimat yang rajin sholat tarawih di masjid, aku pun sholat tarawaih di mushola dekat rumah. Ada masjid di daerah belakang rumah, tapi jalan kesana gelappp. Jadi aku putuskan ke Mushola yang di daerah depan rumah yang agak lebih terang jalannya.

E tapi, penasaran juga suasana tarawih di masjid lain seperti apa. Makanya aku pun mulai bersafari tarawih. Sejauh ini sudah beberapa masjid dan mushola yang aku datangi. Opiniku seperti ini:

1. Musholla Ar Ramli (Blawong I)
Karena warganya semua warga Muhammadiyah, maka sholat tarawih disini terdiri dari 11 Rokaat. Tipe sholat nya --> 4 rokaat - 4 rokaat - 3 rokaat.

Review
# Waktu dzikir seusai sholat isyak cukup
# Sholat ba'diyah isyak dan sholat iftitah secara munfarid
# Ada kultum yang bener-bener kultum, kurang tujuh menit.
# Doa sebelum tarawih, seusai witir dan niat puasa dibaca bareng, masing-masing 3x.
# Imam suka baca suratnya pelan-pelan (benernya begini), sayang, pikiranku jadi sering melayang.
# Semua jamaah sholat tarawih secara lengkap.
# Jaraknya deket, 1 menit jalan kaki.
Sejauh ini, mushola tempat favoritku. Jaraknya yang dekat dan doa yang dibaca bersama-sama membuat suasanaa ramadhan makin hidup.

2. Masjid At Taqorrub (Blawong II)
Sholat tarawihnya masih sama dengan mushola Ar Ramli, terdiri dari 11 rokaat (4 - 4 - 3)
Review
# Waktu dzikir cukup banget.
# Ada kultum.
# Sholat Ba'diyah dan iftitah secara munfarid
# Doa sebelum tarawih dan seusai witir dibaca bareng, tapi tidak 3x. 
# Doa niat puasa dibaca sendiri-sendiri.
# Jaraknya deket, 2 menit naik motor.
# Semua jamaah sholat tarawih secara utuh
Ini masjid favorit keduaku. Suasana masjid yang ramai makin mengingatkanku bahwa Ramadhan ini harus beda dari buulan-bulan lainnya.

3. Masjid Al Ikhlas (Grojogan)
Sempat sholat tarawih 2x disini. Kebetulan lewat dan mampir sih. Ternyata, dan kebetulan, sholat tarawih disini 11 rokaat. Bedanya, tipe sholatnya --> 2-2-2-2-2-1
Masjid Al Ikhlas di lihat dari seberang jalan

Review
# Waktu dzikir pendek, harus ngebut dzikir agar bisa sholat sunat.
# Sholat ba'diyah Isyak + Iftitah secara munfarid. Tak banyak yang sholat sunat.
   Kali pertama baru sempat sholat ba'diyah thok, imam sudah memulai sholat tarawih worried
   Kali kedua, ngebut dzikir dan sempet sholat ba'diyah dan iftitah, yeyyy applause
# Tidak ada kultum.
# Gerakan sholat energik, cepet, jadi nggak sempat pikiranku melayang jauh.  
# Doa sebelum tarawih dan seusai witir dituntun oleh imam.
# Doa terakhir di pimpin imam, jamaah tinggal mengamini.
# Jaraknya 10 menit naik motor.
Menurutku, masjid ini lumayan lah. Meski harus ngebut baca dzikir dan ngebut sholat sunat.

4.  Masjid Kanggotan (nama menyusul)
Menyempatkan sholat disini demi merasakan sholat 11 rokaat di daerah tetangga. Tipe sholatnya -- 4 - 4 - 3
Review
# Waktu dzikir cukup, nggak pake ngebut
# Tidak ada kultum
# Sholat iftitah berjamaah
# Doa tarawih dibaca 3x setiap selesai 4 rokaat tarawih dituntun imam
# Doa setelah witir dibaca bareng, tapi doa niat puasa dibaca sendiri
# Jaraknya 5 menit naik motor.
Seru juga sholat tarawih disini. Suasananya masih seperti di Blawong. Petugas parkirnya juga rapi jali dan helpful banget walaupun tidak dibayar.

5.  Masjid Sokopuro (Blawong I)
Masjid ini masih sama dengan masjid di daerah Blawong lainnya. Sholat tarawih terdiri dari 11 rokaat (4-4-3)
Review
# Waktu dzikir cukup
# Sholat ba'diyah + iftitah secara munfarid
# Tidak ada kultum
# Tidak membaca doa setelah tarawih + witir bersama-sama
# Jaraknya 1 menit jalan kaki.
Meskipun banyak yang suka sholat tarawih disini (terkenal karena waktu sholat relatif cepat), tapi aku kurang suka sholat disini. Sering rancu dan tidak cukup waktu berlama-lama membaca doa setelah tarawih karena bacaan doa yang tidak dilafalkan bersama-sama. Jamaahnya pun terkesan tidak serius. Beberapa ibu-ibu memilih sholat di shof paling belakang agar tidak ketahuan kalau mereka tidak sholat tarawih secara lengkap. Bahkan, pengaturan shofnya kacau. Shof yang paling tengah masih kosong, tapi jamaah membuat shof lagi di belakangnya. Kadang-kadang, shof dimulai dari samping kanan dan kiri. Aku jadi bingung mau gabung dengan shof disebelah kiri atau kanan. Ribet pokoknya.

Safari tarawihnya cuma sedikit ya. Maklum, agak nggak wangun anak cewek keluar malam jauh dari rumah. Tapi, masih penasaran juga suasana tarawih di tempat lain seperti apa.
Lain kali ke masjid mana lagi ya?! thinking

*Pe-eR, harus upload foto masjid lagi nih.. 
 
Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon