Kamis, 21 Mei 2015

Plan A dan Plan B Menjahit Jarik


Hallo.. Hallo..
Ada yang kangen sama saiya? *lebih-baik-pede-daripada-rendah-diri-kan-? 

Yak, saya kembali lagi dengan postingan yang nggak jauh-jauh dari hobi. Tolong dimaklumin ya, ini udah minggu-minggu menjelang liburan panjang. Jam mengajarku di sekolah sudah berkurang 4 jam. Murid les juga banyak yang minta libur dulu. Kan saya jadi seneng punya banyak waktu luang untuk menjahit. Mumpung selo, saya sekalian buka order menjahit aja kali ya. Ayo siapa yang mo jadi pelanggan pertama saya, diskon khusus wis   

Menjahit sendiri bukan sekedar hobi bagi saya. Tapi lebih karena kebutuhan. Biasanya kalo lagi butuh baju ato seragam dan nggak punya waktu dan duit ke penjahit, saya milih njahit sendiri bajunya. Kayak ini nih contohnya. Tahu sendiri kan tiap tanggal 20 saya harus memakai baju kebaya plus jariknya. Karena bulan kemarin jarik saya beda warna sendiri, maka kali ini saya pengen punya jarik yang (at least) warnanya sama dengan temen-temen.

Jarik yang saya beli harganya sekitar 40rb, lupa-lupa ingat. Saya pengen punya rok jarik model A-line yang nggak terlihat terlalu casual. Tujuannya sih, biar lebih nyaman dan nggak ribet pas gowes, karena saya seringnya ke sekolah naik sepeda. Nggak kebayang tho, jarikan itu udah ribet buat jalan, kalo mo gowes kudu cincing seberapa tinggi coba?! 
Desain Rok Plan A
Selesai membuat desain, saya mulai mengukur seberapa lebar lebar rok bagian pinggang dan kaki yang sesuai dengan desain. Agar lebih simple dan cepat selesai (waktu itu udah tanggal 19 cyin ), saya hanya memotong kain 1x saja di bagian samping. Dengan pertimbangan ban pinggang langsung menyatu dengan rok dan harus diberi karet plus resleting samping. 
Proses Ukur-ukur lanjut di potong
Wait..... stop!! 
Ada yang memperhatikan foto diatas nggak? Apa yang janggal coba?
Ditengah-tengah memotong kain, saya sadar kalo........ Motifnya kebalik pemirsa 
Motif Garuda-nya njungkel, harusnya menghadap ke atas, tapi ini malah menghadap ke bawah. Nangis nggak tuh. Kain cuma ini, kok ya salah potong. Akhirnya, saya berhenti memotong dan mulai mencari ide untuk ngakali agar kain ini tetep bisa jadi rok. Saya kan nggak mau rugi 
Kiri - Garuda ngadep bawah, Kanan - Garuda udah ngadep atas
Setelah mikir-mikir agak lama disertai perdebatan antara saya dan ibu (Ibu suka kasih ide jahitan yang menurutku STD alias standar, tapi makasih lho buk ), maka saya sudah tahu harus diapakan kain salah potong ini. Dan projek jahitan saya pun berlanjut. Untungnya (selalu ada untung dibalik musibah) saya baru memotong 1/4 bagian saja, jadi selebihnya bisa dibenerin arah motifnya.
Jahit, jahit, jahit..
Desain Plan A saya sudah gugur, dan Plan B yang menyempurnakan Plan A. Coba perhatikan: bagian atas rok yang motifnya Garudanya tetap njungkel, sedangkan bagian bawahnya sudah benar menghadap ke atas. Sekilas memang tidak terlalu kentara perbedaan motif bagian atas dan bawah. Apalagi sambungan kainnya saya tutup dengan kain ala-ala pita lagi. Namun, kalo yang memperhatikan itu seorang pemerhati batik, bisa kena kritik saya, huft 
Hasil Jadi Plan B
Menjadi penjahit harus pinter mencari ide kreatif, meski kreatifnya muncul saat terjadi bencana seperti saya. Ke depannya, saya kudu lebih ati-ati lagi supaya nggak perlu ada desain Plan B. Yet, kalo kata pepatah, dan saya setujuuuu banget:

If plan A doesn't work, the alphabet has 25 more letters
Kalo rencana A nggak jalan, masih ada 25 huruf lain. 
Tinggal pilih mau huruf yang mana gitu lhoh..

Kamis, 07 Mei 2015

Rok Batik Rang-Rang


Bismillahir rahmanir rahim..
- Nggak kerasa, dalam waktu 1 minggu bisa juga ngebut bikin post yah -

Sebagai kelanjutan saya untuk restoring the mood, saya sengaja jalan-jalan ke toko kiloan. Seneng lho ngeliat segitu banyaknya tumpukan kain. Capek di liatin mas penjaga toko, saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada kain katun motif rangrang warna ungu. Yeah, ungu lagi.. *Yo ben tho.

Kain berukuran 115 cm x 150 cm ini harganya cuma 24 ribu rupiah sajah. Murah kan? Murah dong.. Daripada beli beli jadi, 24 ribu belum dapet kain yang seperti ini lho. Saya kepengen jahit rok yang modelnya dibilang simpel sih nggak ya, tapi bisa lah disebut casual. Seperti biasa saya menggambar model rok yang ingin saya jahit dulu agar lebih gampang menuangkannya di kain tanpa harus bikin pola. Saya nggak suka  bikin pola sih.



Bagian  Rok Bawah
Rok ini di wiru (kayaknya istilahnya salah deh) sejumlah 4 di bagian depan, ala rok anak sma. Tapi wirunya nggak sampe bawah juga kali, cuma dikiiiit aja dibagian atas. Rok bagian belakang tidak ada wiru, cuma diberi karet.
  • Ukuran panjang rok saya 82 cm. Saya melebihkan kain 4 cm untuk jahitan kelim bagian atas dan bawah.
  • Maka setelah dilipat menjadi 2 dan dipotong, saya akan mendapatkan kain rok bawah berukuran 86cm x 75 cm.
  • Masih dalam bentuk lipatan, dari tengah kain, saya mengukur 8 cm ke arah dalam. Dari sini nantinya saya akan memulai membuat wiru.
  • Lebar masing-masing wiru yaitu 10 cm. Kalo sudah dijahit hanya akan menjadi 5 cm saja lebarnya.
Begini lho wiru yang saya maksud

Bagian Ban Pinggang
Ban pinggang yang saya inginkan terdiri dari ban depan tanpa karet, ban belakang kanan kiri berkaret, dan ban resleting kanan kiri tanpa karet. Lihat desain ya kalo pusing baca penjelasan saya, hihihi
Ada yang bingung cara menentukan panjang ban pinggang? Begini cara saya..
  • Ukur lingkar rok bagian pinggang yang akan diberi ban.
  • Setelah dijahit wiru, lingkar rok bagian pinggang saya menjadi:
Lebar rok dikurangi kelim kanan kiri = 150 cm - (2 x @1 cm) = 148 cm
Lingkar pinggang setelah diwiru tersisa = 148 cm - (4 x @10cm) = 108 cm
  • Ban pinggang yang saya butuhkan:
Panjang ban depan = 50 cm
Panjang ban resleting kanan kiri = 2 x @ 4 cm = 8 cm
Panjang ban karet = 108 cm - 50 cm - 8 cm = 50 cm
Panjang ban karet kanan dan kiri = 50 cm : 2 = 25 cm
  • Setelah selesai menghitung panjang ban, potong kain sesuai ukuran ban yang dibutuhkan, lebihkan 2 cm tiap ban untuk kelim sisi kanan dan kiri.
Selesai memotong ban, saya mulai dengan menjahit karet pada ban bagian belakang. Lebar ban yang 10 cm, idealnya di isi dengan 3 karet. Dan agar lebih gampang, saya mulai dengan menjahit ban 1 cm dari pinggir atas memanjang. Dengan jarak sekitar 2,5 cm (saya menggunakan karet ukuran 2 cm), saya jahit memanjang lagi dan seterusnya sampai saya mendapatkan 4 jahitan. Jahitan ini kemudian saya isi karet kolor dengan bantuan peniti besar. Saya menyematkan jarum pentul di ujung kanan dan kiri agar karet dan kainnya tidak bergeser. Setelah itu, baru saya jahit bagian tengah karet untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus. Untuk pemula, cara ini lebih gampang lho.

Mengisi ban dengan karet kolor
Next, saya menyatukan 5 potong ban menjadi satu. Urutannya, ban resleting - ban karet - ban depan - ban karet - ban resleting. Semua sambungannya saya sembunyikan di bagian dalam ban sehingga tampak lebih rapi. Selanjutnya, saya menjahitkan ban mengelilingi rok bagian pinggang, menyatukan sisi kanan dan kiri rok bawah, menjahitkan resleting jepang, merapikan sisa kain untuk menutupi resleting dan selesai..
Duh, efek hanger bikin rok kelihatan gak imbang
Argh.. susah ya menulis tutorial itu. Saya nggak telaten mengambil foto step by stepnya. Jadi malah bingung sendiri gimana menjelaskannya. Asumsi saya, pembaca sudah paham cara menjahit, jadi hanya dengan melihat hasil jadinya saja sudah bisa mengkira-kira cara menjahitnya.

Well, begitulah hasil karya saya. Hasil karyamu apa nih?

Senin, 04 Mei 2015

Di Atas Lemari Saya



Aih.. Malem-malem mo ngapain sih? Pajang foto printilan di atas lemari. Mending kalo rapi, ini mah enggak bagus neng, malu-maluin aja. Tapi wis kebacut di upload, jadi mari saya tulis apa yang sebenernya terjadi.

Malem ini, saya lagi bbm-an sama Citra. Trus, tiba-tiba dia ada yang ngapelin (dan saya enggak ada ). Saya kan jadi enggak tahu mau ngapain lagi sambil nunggu Citra selese. Karena itulah saya iseng-iseng ngitungin apa saja sih yang ada di atas lemariku. Kenapa bisa penuh dan saya nggak bisa menyingkirkannya. Lemari pakaian di kamar ini cuma setinggi kurleb 1 meter.  Pas lah untuk menaruh skincare ato make up yang saya butuhkan setelah saya mandi. 

Mari kita mulai tour di atas lemari saiya...
Di pojok kiri, ada kalender duduk dan kaca sedangkan di pojok kanan ada rak kecil berisi peniti, bros, kabel headset dan apa saja lah yang sekiranya kecil tapi penting. Di sebelahnya lagi ada trophy. Bukan.. Bukan punyaku. Itu trophy (penulisan sinopsis) nya Lutfia yang numpang ditaruh sendiri disana. Ya wis lah, saya enggak berani mindahin, takut dia kecewa.

Now, I'll take you closer to things on my wardrobe...
Face care
Eh, maaf.. Make up removernya salah masuk group. Ya itung-itung ikut mensukseskan kulit wajah dari jerawat bekas make up deh ya, jadi bolehlah masuk ke face care group. 

Sepuluh item tersebut nggak semuanya saya gunakan, contohnya Ristra total concept whitening day dan night creamnya. Acne prone saperti saya ternyata kurang cocok sama yang berbau-bau whitening. Jadi ya nganggur saja gitu. Kadang-kadang saja dipake adeku soalnya cocok di dia. Wajah gosong bekas ke pantai-nya jadi lebih mendingan. Cuma dasarnya saya nggak mau rugi dan biar nggak mubadzir, kalo day and night krim dari dokter sudah habis tapi belum sempet ke dr. Riki, saya pake lagi Ristranya, hehehe 
Body care and fragrance
Bodycare yang saya punya enggak banyak. Tuh, cuma itu saja. Namanya juga yang di atas lemari, jadi yang nggak ada disini ya nggak perlu dipajang. Dari ke-5 item itu, saya paling suka sama Mazaya Body Cologne yang Azalea. Asli, cologne ini nggak seperti cologne yang pernah saya beli dan bisa mengalahkan deodorant untuk menghilangkan bau badan. Iya, saya menyemprotkan cologne ini di ketiak dan beberapa spot di badan. Eh, seharian badan saya masih wangi-wangi aja lho. Biasanya, wangi cologne akan hilang dan semakin nggak enak baunya ketika badan kita berkeringat. Tapi Mazaya ini beda, justru semakin kita berkeringat, semakin baunya keluar. Saya juga nggak tahu kok bisa begini.. #Tanya kenapa 
Make up
Dan, yang terakhir soal make up. Siapa bilang tampil sederhana itu nggak boleh dandan? Saya emang nggak pintar dandan, tapi saya kan nggak mau kelihatan lecek di muka umum. Kasihan orang lain, jadi banyak dosa karena ngrasani saya tho (ngeles wae ). Memang sih untuk make up sehari-hari, saya lebih suka pake sunblock, bedak tabur, lipstik dan (kadang-kadang) mascara. Tapi saya juga punya alat make up dasar yang saya gunakan untuk event tertentu semisal kondangan di gedung ato pas dapat undangan dinas, hihihi  . Tuh saya punya dua BB Silky Girl  yang sering saya gunakan kalo pengen dandan agak ribet dikiit. Shade Natural lebih cocok di saya, dan shade Radiant jadi nganggur sementara. Do I look different after putting on my make up? Nope, biasa aja menurutku. Cuma agak fresh gitu, minimal kelihatan kalo sudah mandi lah..

Barang-barang yang saya punya di atas, tidak serta merta saya beli dalam satu waktu. Ada yang udah dari kapan beli nggak habis-habis. Saya belinya nyicil, seperlunya. Misal bulan ini saya butuh beli bedak Marck, lippen sama cologne, ya saya beli itu doang. Memang saya akui perempuan itu suka lapar mata kalo lihat yang unyu-unyu, tapi kan kudu inget budget dan kebutuhan juga. Kalo belum butuh, ya saya tidak beli. Pake prinsipnya ibu-ibu lah, ngirit dot com. Coba cek harga BB Silky Girl di sini. Make up saya nggak mahal kan.. 

Last but not least, saya tidak asal beli skincare/make up lho. Biasanya saya googling dulu, blogwalking nyari review barang yang saya butuhkan dan sesuai dengan kondisi kulit saya, contohnya BB Silky Girl. Alhamdulillah, so far so good. Makanya, jangan males googling ya dear. Jangan sampe kayak beli kucing dalam karung.. 

See ya

Kamis, 30 April 2015

My MoodBoosters, What yours?


What a day... 
Udah semangat lagi nih cin..

I had lost my mood for about 2 days. It was not about something important actualy. Masih soal the missing chip of sensitivity i've talked before. Hanya saja lumayan agak menggangu. Kalo cuma kepala kejedot pintu ato kaki kesandung batu, sakitnya tuh nggak seberapa, dan cuma saya sendiri yang ngerasain sakitnya. Tapi kalo sampai dikirimi hujan badai, orang-orang disekitarku juga bakal ikutan susah. Bete kan jadinya. That's why I have to bring my mood back before something bad happens. Bahasa sok baiknya, saya nggak suka kalo orang lain ikut merasakan apa yang saya rasakan, halah.. 

So, what do I do when I lose my mood? 
Begini nih cara saya mengembalikan semangat yang meredup:
  • Reading Qur'an --- Seriusan, kalo lagi bad mood, saya malah rajin tadarusan sampe minimal setengah juz. Soalnya pengen buru-buru ilang betenya. Biasanya selese ngaji saya jadi lupa-lupa ingat sama masalah jadi agak bersemangat buat lanjutin kegiatan. Cobain deh... 
  • Going to bed --- Daripada pusing-pusing, mending tidur aja deh. Nggak capek badan, nggak capek hati juga.
  • Doing exercise --- Akhir-akhir ini saya mulai keranjingan ikut senam di sanggar sebelah. Awal mula ikut senam juga karena saya lagi sedih, terus nyari-nyari kegiatan. Biasanya saya milih olahraga sepeda bareng satu temen dan adiknya yang juga hobi nyepeda. Tapi, berhubung temen sepedaan saya lagi koas, jadi nggak bisa ngajakin dia (Dulu sih pernah saking suntuknya, asal nyepeda sendirian lintas 3 kecamatan, hohoho..)  Nah, saat itu, saya beruntung ada teman yang ngajakin senam. Langsung deh angkut sepatu, ngebut ke sanggar. In spite of having slim body (cieh) and keeping me healthy, lumayan tho bisa ngilangin stress.
    Sepatu untuk lari.. Lari dari kenyataan, hehe
  • Riding my motor bike around the town --- Iya, kadang kalo suntuk seharian di rumah, saya sengaja nyari-nyari kegiatan di luar. Yang gampang-gampang aja, misal ke toko tapi lewat jalan yang muter jauh, ato sekalian nyari tokonya yang jauhan dikit. Malah kadang-kadang, saya sama adek sengaja tuh keluar naik motor muter-muter tanpa arah. Kadang brenti jajan, kadang cuma nongkrong aja dimana. Di sepanjang jalan nanti saya akan melihat suasana yang lebih menyenangkan. Ato malah lihat pemandangan menyedihkan dan lebih menyedihkan dari yang saya alami (hayah). It helps us banget buat ngusir suntuk.
  • Sewing and sewing --- Nah, hobi yang ini kadang-kadang aja bisa ngilangin stres. Soalnya, kalo dapet ide desain baju yang unik, malah tambah stres mikirin cara njahitnya. Apalagi kalo pernik-perniknya nggak tersedia di rumah. Kudu repot-repot ke toko jahit.
  • Tidying my room --- Selain poin yang di atas itu, kalo lagi bad mood tapi selo banget, saya milih beres-beres kamar tidur. Kamar saya ini termasuk kamar favorit. Ponakan yang jumlahnya 4 biji suka banget tidur plus main di kamarku. Jadi kebayang kan berantakannya kayak mana. Sehari bisa rapi saja sudah syukur banget. Biasanya, sekali saya beberes kamar sendiri, pasti merembet ke ruang depan sampe ke kamar mandi di belakang. Rajin kan? Iya kalo pas nemu rajin aja sih, hihihihi
  • Blogging ---  Nulis itu sesuatu yang ehmmm.... menyenangkan bagi saya. Saya nggak perlu menunggu datangnya teman untuk curhat, tinggal saya ketik di blog, di save trus di baca ulang di kemudian hari. Saya jarang sekali nulis dan langsung di publish. Saya butuh membaca ulang kalo-kalo ada kalimat yang kurang enak dibaca ato justru keseluruhan isinya nggak layak publish.
  • Talking to others --- Kenapa saya nulis "curhat ke temen"-nya di paling akhir? Soalnya saya nggak suka berbagi mood jelek. Kalo sekiranya sudah di ubun-ubun, dan saya susah mengembalikan mood, baru saya curhat ke temen. I have many many friends yang setia menemani saya. Jadi saya tahu mereka bakal menghibur saya. minimal ngajakin saya jalan-jalan deh :D
Begitulah cara saya mengembalikan semangat dikala sedih melanda atau saat tiba-tiba malas ngapa-ngapain. Saya memang sengaja nggak nulis makanan di daftar moodbooster, kayak adekku. Soalnya memang kalo bad mood malah jadi nggak selera makan je. Nih buktinya saya nggak nambah berat badannya, xixixixi... *asal-pede-aja-saiyah 

Kamis, 23 April 2015

Yey.. Punya Kebaya..

 

Another April post…
Assalamu’alaikum…

Well, langsung aja ya, kali ini saya masih akan senang bergelut dengan mesin jahit dan kain. Sudah tahu kan kalo di Bantul, tiap tanggal 20 semua pegawai dihimbau untuk memakai baju daerah jawa. Yes, karena Bantul ini masih wilayah Jogja, jadi yang putri memakai kebaya dan jarit, sedang yang putra memakai surjan, jarit plus blangkon. Kebayang kan, tiap tanggal 20, sekolahku penuh dengan ibu-ibu dan bapak-bapak guru yang siap kondangan.

Saya melewatkan bulan Maret lalu tanpa kebaya karena saya tidak punya kebaya, dan kain kebaya yang dibeli kembaran dengan temen-temen pun belum saya jahit, hehehe.. Kayaknya cuma saya seorang yang kain kebayanya masih rapi terlipat di lemari. Khawatir melewatkan tanggal 20 lagi, saya buru-buru mencari ide desain kebaya yang saya mau.

Kebaya yang saya inginkan itu yang tidak terkesan seperti ibu-ibu. Saya memberi potongan kebaya dibagian atas pinggang. Keponakan saya menyebutnya "Kebaya chibi, budhe". Eaaaa... apa-apalah sebutannya. Pertama-tama, saya memotong kain puringnya terlebih dulu, sesuai pola yang saya buat (hasil menjiplak baju jadi). Tiga potong untuk bagian atas: depan kiri, depan kanan dan belakang; tiga potong untuk bagian bawah: depan kanan, depan kiri dan belakang; serta dua potong untuk bagian legan. 
Setelah puringnya selesai dipotong, baru saya memotong kain broklatnya. Ukuran dan jumlah potongan kain broklat sama dengan kain puring. Hanya saja saya melebihkan lebar kain broklat untuk bagian bawah kebaya. Bagian bawahnya agak melebar ke bawah supaya tidak terlalu nempel di badan. Pada bagian bawah kebaya, kain broklatnya lebih panjang dari kain puring. Sedangkan di bagian lengan, kain broklatnya justru lebih pendek dari kain puringnya. Kesannya mungkin aneh, tapi aneh itulah yang saya suka, mbedani, hehe

Saya sama sekali tidak menggunakan pita ukur untuk membuat potongan kain. Hanya mengandalkan pola, jarum penthul, pensil jahit dan gunting. Sok pede lah ceritaya. Menjahit kebaya ini agak tricky. Saya harus menjahit kain boklat dan puringnya secara bersamaan. Karena saya kesulitan menyatukan empat potong kain sekali jahit, maka tiap kain broklat dan puring saya satukan dengan jarum penthul dulu bau kemudian saya jahit. Untuk bagian yang agak susah, misalnya bagian lengan, saya jahit jelujur dulu agar hasilnya lebih rapi. Alhamdulillah setelah dibenerin sana-sini, hasilnya nggak malu-maluin kok.


Ada cerita lucu dibalik pembuatan kebaya ini. Untuk ngepasin kebaya dengan badanku, saya bolak balik nyoba kebaya setengah jadi ini di depan lemari kaca. Kebetulan keponakan saya yang baru berumur 2,5 tahun sedang main di sekitar lemari. Dia mengamati tingkah polah saya sedari tadi. Iseng saya pamer kebaya ke zhafir

Aku : "Bajunya lek Endang bagus nggak?"
Zhafir: "Gak"
- beberapa detik kemudian -
Zhafir: "Walnanya bagus"
*Gubrak... Nyari pujian dari anak kecil susah ternyata, hahahaha
Eh, tapi heran juga, Zhafir bisa punya ide muji warna kebayanya segala 

Oh iya.. Awalnya saya tidak mau kebaya degan kancing. Saya nggak bisa bikinnya bu, susah. Namun, mengingat saya sudah terlalu sering ‘mbedani’ maka saya putuskan menjahit kebaya dengan tetap ada unsur tradisionalnya. Jaman bu Katini dulu resleting belum ngetrend  kan? So, dengan tali sengkelit yang kurang sesuai dengan harapan, jadilah kebaya saya begini..

Nah, begitulah cerita kebaya pertama saya. Seneng banget bisa menyelesaikan jahitan kebaya yang saya pikir susah untuk dijahit. Saya membutuhkan waktu berhari-hari untuk membayangkan bagaimana saya menjahit kain broklat. Dan ternyata, nggak susah-susah amat lho.

Anda tidak akan tahu yang mudah kalo anda belum merasakan yang susah. 
Semangaaaaaaaat..

Minggu, 05 April 2015

Melawan Ketidaksukaan


Sudah bulan April ya.. Apa kabar?
I’m so excited that it’s already April. Kayaknya January baru kemarin lho..
Awal April ini saya mulai dengan cerita tentang sesuatu yang saya tidak suka. BUAH..

Tadaaaa…

JUS JAMBU, hiyeeeek..

Lebay? 
Enggak, memang saya tidak suka baunya, eneg gitu. Rasanya juga kayaknya gak enak..
Tapi, kemarin, first time in my life saya akhirnya minum jus Jambu. Nggak tanggung-tanggung, saya menghabiskan 1 gelas jus. Iya 1 gelas, nggak cuma 1 sendok saja. 

First Impression

Bentuk:

Saya tidak suka teksturnya yang kental, klentrek-klentrek kalo orang jawa bilang.

Bau:

Nggak enak, baunya tajam menyengat sampai-sampai saya menahan nafas demi tidak membauinya.

Rasa:

Asem dan manis jadi satu. Nggak terlalu aneh sebenarnya, tapi bau jambunya menghancurkan rasanya.

Kesimpulan:

Not bad. Nggak buruk-buruk amat lah, kecuali baunya. Saya tidak kapok minum jus jambu lagi, tapi agak mikir-mikir kalau harus minum jus jambu, hehe. Tapi, kalo saya harus membuat jus jambu sendiri, terimakasih saja deh. Saya pilih buah Jeruk saja..

Pesan Sponsor:

  • Untuk yang tidak suka makan buah seperti saya, boleh deh mencoba minum jusnya dulu. Kenapa? Karena jus bentuknya cair, jadi bisa langsung masuk kerongkongan tanpa perlu mengunyahnya. Siksaannya akan cepat berlalu, percaya deh. 
  • Terus, karena saya masih pemula, setelah minum jus jambu, saya menetralisirnya dengan teh manis. Setidaknya rasa dan bau jambunya bisa hilang dari mulut saya. Dan perjuangan saya berhasil.
  • Terakhir, mintalah orang lain untuk membuatkan jus. Dengan begitu, kita jadi merasa nggak enak kan kalo nggak ngabisin jus tadi, hihihi.. Ngeles aja nih..

Kamis, 12 Maret 2015

Lagi-lagi.. Gamis Jahitanku


Welcome March..
Sepertinya saya melewatkan setengah bulan tanpa mengintip blog sama sekali. Padahal materi blognya ada. Di draft malah sudah ada 2 yang tinggal di edit kemudian di publish. Tapi, kayaknya saya mo nulis yang baru aja deh.

Kali ini saya mau nge-post tentang baju baru saya saja 
Baju ini sudah saya desain jauh-jauh hari sebelum waktunya dipakai. Seperti biasa, baju kesukaan saya adalah gamis. Gampang dijahit, enak dipakai, dan bisa dipakai untuk acara formal maupun non formal juga. Gamis ini terdiri dari 2 bagian, Sleevless Dress dan Cardigan. Kenapa saya bikinnya sleeveless alias tanpa lengan? Karena untuk acara santai, tinggal saya padukan dengan kaos atau cardigan rajut saja bisa.
Sejak tanggal 14 Februari, kain ini sudah mulai saya potong sesuai pola. Namun, karena kesibukan, baru saya mulai menjahit 4 hari kemudian. Itupun saya hanya punya waktu 2 hari untuk menjahitnya. Kenapa? Soalnya mesin jahitnya ngantri nek . Adek saya juga mendadak bikin baju untuk dipake di hari Ahad-nya.

Beginilah hasil jadi gamis jahitan saya. Bahan gamis ini perpaduan antara batik dan kain katun jepang. Kain katunnya enak, adem dan mudah disetrika, penting ini. Sebab, beberapa kali beli kain katun biasa, kainnya susah untuk disetrika. Kesannya jadi kurang rapi, dan yang pake males nyetrika 
Sebenarnya saya masih pengen nambahin aksen pada sambungan gamis bagian bawah. Tapi, karena waktunya mepet, jadi belum sempet ditambahi sudah keburu dipake. Ya sutra lah ya, begini saja sudah bisa dipake. Lain kali sajalah bikin baju dengan aksen yang banyak.

PR saya setelah ini adalah menjahit baju selain gamis. Sudah ada beberapa gamis yang saya punya dan saat ini bisa dibilang jahit gamis itu gampil, ketjiiiil. jadi skip dulu lah kepengenan jahit yang simpel. Saya butuh tantangan lain, ehehehe  
 
Don't Skip Me Blog Design by Ipietoon